Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Muhamad Rifki Fadilah, Peneliti Bidang Ekonomi, The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research.

The Fed Longgarkan Moneter, Ekonom: Ada Harapan Bunga Kredit Single Digit

Pasar menyambut baik ekspektasi bahwa the Fed akan mengakhiri siklus kenaikan suku bunga. Kecenderungan The Fed menahan suku bunga acuan lantaran ekonomi AS yang belum sesuai harapan, seperti pertumbuhan ekonomi AS pun melambat dipengaruhi oleh terbatasnya stimulus fiskal, permasalahan struktural tenaga kerja, dan menurunnya keyakinan pelaku usaha.
Hal itu disampaikan oleh Pengamat Ekonomi The Indonesian Institute, M. Rifki Fadilah di Jakarta, Kamis (21/3). Menurutnya berbagai tantangan tersebut dinilai menjadi alasan kuat The Fed mengerek suku bunga acuan.
“Ini dikarenakan pertumbuhan ekonomi AS melambat, The Fed kini sedang berupaya menggunakan instrumen lain untuk menyedot likuiditas di pasar, misalnya dengan merampingkan neraca keuangannya dengan cara melepas surat-surat berharga ke pasar,” kata Rifki.
Rifki menambahkan bahwa keputusan The Fed menahan suku bunganya menjadi momentum cantik bagi Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan sehingga suku bunga kredit bisa dikejar menuju level single digit tahun ini.
“Jika kita lihat, tahun ini The Fed diperkirakan hanya menaikkan FFR (Fed Fund Rate) dua kali. Bahkan, belakangan ini muncul analisis baru bahwa FFR pada 2019 kemungkinan tidak naik sama sekali.” Beber Rifki.
Dengan posisi FFR yang seolah terkunci di level 2,25 – 2,50 persen, kata Rifki, pasar finansial akan bergerak lebih tenang dan terukur. Selanjutnya, dari dalam negeri kita bisa melihat bahwa margin bunga bersih (net interest margin/NIM) rata-rata perbankan yang telah berangsur turun ke angka 4,85 persen pada tahun 2018 kemarin.
Rifki juga mengingatkan bahwa BI harus terus meningkatkan efisiensi dan meningkatkan pendapatan lain, seperti pendapatan non-bunga (fee based income) guna membantu mengkatrol penurunan suku bunga. Di saat yang sama juga perlu membenahi persoalan derajat pass through perbankan agar tidak terlalu rigid seperti tahun-tahun sebelumnya.
“Menurunkan suku bunga acuan ke level yang lebih pro-sektor riil tidak boleh abaikan lagi. Ini merupakan momen BI mengejar (lagi) mimpi bunga kredit single digit,” pungkas Rifki.

Sumber: Ipotnews

Komentar