Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Adinda Tenriangke Muchtar. Direktur Eksekutif, , The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research.

Belajar Kreatif dan Seru tentang “Mempromosikan Kewirausahaan dan Pasar Bebas”

IAF Seminar “Promoting Entrepreneurship and Open Markets”, 15 – 27 September 2019

Setelah mengikuti IAF (International Leadership Academy) tentang globalisasi 10 tahun silam dan di bulan yang sama, akhirnya Adinda kembali ke Gummersbach, Jerman, untuk mengikuti seminar IAF yang diselenggarakan oleh Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF). Seminar kali ini bertemakan “Promoting Entrepreneurships and Open Markets”, 15-27 September 2019. Dalam kesempatan ini Adinda membagikan publikasi Suara Kebebasan tentang studi kebijakan terkait Permenkominfo No. 19 Tahun 2014 tentang Penanganan Situs Bermuatan Negatif. Adinda juga membagikan CD TII untuk memperkenalkan Suara Kebebasan dan TII, serta memperluas jaringan strategis dengan para pendukung gagasan kebebasan. Beberapa peserta seminar juga terafiliasi dengan riset kebijakan publik.

Seminar ini diikuti oleh 22 peserta dari beragam negara, yaitu: Ukraina, Israel, Uganda, Vietnam, Senegal, Georgia, Malaysia, Chile, Filipina, Argentina, Guatemala, Costa Rica, Mexico, Moroko, India, Sri Lanka, Pakistan, Swedia, Vietnam, Indonesia, dan Bangladesh. Latar belakang para peserta yang beragam, baik dari asosiasi start-ups, politisi, lembaga penelitian, pengusaha, aktivis NGO, dan staf FNF, diantaranya, juga ikut memperkaya diskusi dan saling tukar pikiran dan pengalaman dari negara masing-masing dalam seminar ini. Seminar yang difasilitasi oleh dua orang yaitu Jyoti Sarinthorn dan Dr. Julian Kirchherr, serta diasisteni oleh Boris Kagan ini dirancang dan diselenggarakan dalam program dan aktivitas yang menarik dan akrab, serta sangat kreatif dari seminar yang sebelumnya saya hadiri.

Sejak hari pertama, para peserta mulai membangun keakraban lewat kerja kelompok (scavenger hunt) yang seru dan menyenangkan untuk mengenal fasilitas di Theodore Haus Akademie. Acara resmi seminar sendiri dimulai pada hari Senin, 16 September, dimana fasilitator mengajak para peserta mendiskusikan tentang pandangan liberal konvensional dan non-liberal terkait pasar bebas dan pengusaha di negara-negara peserta berasal. Pandangan liberal mendorong kebijakan yang pro-konsumen; pengurangan pajak, tidak banyak peraturan dan intervensi dari pemerintah, serta kemudahan bertransaksi dan didasari oleh asas sukarela dan perlindungan terhadap hak kepemilikan, serta kepatuhan terhadap kontrak yang disepakati. Di sini ditekankan pula bahwa pasar bebas merupakan kesempatan untuk kehidupan ekonomi dan sosial yang lebih baik.

Sesi selanjutnya, fasilitator memperkenalkan tentang pentingnya kebebasan ekonomi, makna, serta dampaknya lewat kerja kelompok dan presentasi yang kreatif dan ditampilkan dalam bentuk drama, kartun, webinar, dan wawancara. Saat itu, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja dengan kelompok yang mempresentasikan soal kebebasan dalam bentuk kartun. Menariknya, ada tugas rahasia yang Dr. Julian minta kami lakukan, yaitu menambahkan karakter kartun “South Park” dalam presentasi kami. Setiap kelompok mendapatkan masukan dan pertanyaan dari peserta lainnya setelah selesai dengan presentasinya.

Kartun yang kelompok kami tampilkan di flipchart terbagi dalam dua kolom. Kolom pertama menggambarkan kelas dengan karakter Mickey Mouse dimana terlihat guru yang mengajar satu arah dan menjelaskan bahwa 2+2=1, karena harus ada penyogokan untuk memperlancar usaha ke pemerintah; birokrasi yang rumit; dan korupsi. Sementara, kolom kedua, dengan karakter “South Park”, digambarkan kebebasan ekonomi memberikan banyak manfaat, tidak hanya kebahagiaan, peningkatan pendapatan, beragam pilihan, dan sebagainya. Masukan untuk kelompok kami adalah menjelaskan elaborative soal bagaimana kebebasan ekonomi berdampak positif bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia, serta pertumbuhan ekonomi, karena di kartun  kurang tergambarkan dengan jelas.

Sesi presentasi kelompok ini kemudian ditutup dengan ulasasn lebih lanjut tentang komponen kebebasan ekonomi dan argumen-argumen dasar untuk kebebasan ekonomi, beberapa contoh dari keuntungan kebebasan ekonomi, serta karakternya. Beberapa komponen kebebasan ekonomi, diantaranya adalah: penegakan hukum, efisiensi peraturan, ukuran pemerintah, kebebasan berbisnis dan ketenagakerjaan, serta keuangan dan kredit, serta pasar bebas. Beberapa sumber acuan untuk indeks kebebasan ekonomi dapat dilihat di website Fraser Institute dan The Heritage Foundation yang rutin mengeluarkan indeks kebebasan setiap tahunnya.

Dalam seminar ini, peserta juga diperkenalkan tentang apa yang dimaksud dengan pengusaha dan kondisi apa saja yang dibutuhkan untuk mendorong kewirausahaan. Selama ini kapitalisme dan pasar bebas kerap dipahami dengan salah. Dalam kenyataannya, bisnis menyediakan jasa-jasa sosial, insentif untuk inovasi, mengisi kekosongan jasa yang dibutuhkan masyarakat lewat produk barang dan jasa yang berkualitas, serta mendorong ekonomi yang didorong oleh kebutuhan dan permintaan konsumen. Karena itu pulalah, pasar bebas menjadi kondisi utama untuk mendorong tumbuh kembangnya pengusaha dan bisnis.

Topik terkait lainnya juga mengupas tentang pentingnya insentif dan motif mendapatkan keuntungan untuk menjelaskan perilaku wirausaha dan pasar yang dibawakan oleh Dr. Emmanuel Martin (Direktur Eksekutif the Ecole de la Liberte, Prancis). Yang menarik dalam seminar ini juga adanya pembicara yang menyampaikan materinya lewat Skype, meskipun ada kendala koneksi di beberapa kesempatan. Dr. Klaus-Heiner Rohl, Ekonom Senior, Institute of the German Economy, Cologne, menyampaikan paparannya tentang budaya wirausaha dan start-ups. Terkait pasar bebas, Dr. Martin menekankan tentang pentingnya insentif dan motif dalam menjelaskan perilaku pasar. Dalam hal ini, insentif penting karena manusia adalah makhluk rasional yang menghitung biaya dan manfaat pilihannya. Meningkatnya kompleksitas juga mendorong kerjasama dan kebutuhan untuk berkoordinasi yang terefleksi dalam desentralisasi ekonomi, termasuk dalam pasar.

Sementara yang menarik dari presentasi Dr. Rohl adalah konteks Eropa, dimana terdapat hambatan kultural untuk berwirausaha, seperti lemahnya sikap optimis untuk berbisnis dan kecenderungan menghindari resiko, tingginya kepercayaan dan ketergantungan terhadap negara, kurangnya pendidikan kewirausahaan. Ia juga mengatakan pentingnya contoh-contoh dari wirausahawan yang sukses, pendidikan di sekolah dan kampus, serta lewat media online, mendorong pengangguran untuk memulai bisnis, serta mendorong terciptanya jaringan dan meningkatnya kepercayaan untuk mendorong budaya kewirausahaan di Eropa. Di Jerman sendiri, start-ups sedang berkembang dan biasanya didukung oleh pendanaan pribadi (keluarga dan kerabat). Berlin dinilai dominan dalam mendorong start-ups, selain Rehin-Ruhr Area; Hamburg; Stutgart-Karlsruhe, dan Munich.

Lebih lanjut, makna liberalisme, ekonomi pasar dan pasar bebas juga dibahas dengan menghadirkan beberapa pembicara tamu dan lewat ekskursi, khususnya terkait kewirausahaan dan start-ups. Para peserta juga diperkenalkan dengan Perwakilan FDP di Cologne, Kadin di Hamburg, start-ups di Hamburg (Hamburg Innovation dan Curilab), dan legislator yang juga aktif mendorong start-ups. Menarik bahwa di Jerman, kota-kota yang ada saling bersaing untuk menjadi yang terdepan dalam hal memfasilitasi start-ups dan mendorong terciptanya ekosistem yang kondusif dengan beragam aktor yang relevan yang saling berjejaring untuk mendorong kewirausahaan.

Banyak hal yang saya pelajari dari seminar IAF kali ini tentang makna pengusaha dan kontribusi bisnis untuk mendorong inovasi, kreativitas, dan kehidupan ekonomi dan sosial yang lebih baik. Selain itu, yang menarik dalam seminar ini adalah metode fasilitasi yang kreatif, produktif, interaktif, akrab, dan kompetitif sejak awal seminar dibuka. Hal ini pulalah yang juga saya nikmati dan pelajari selama seminar di Gummersbach karena dapat diterapkan juga dalam kegiatan serupa di Indonesia. Metode seperti ‘the four corners’ dan ‘scavanger hunt’ menjadi ice breaking yang mengakrabkan para peserta dari hari pertama seminar.

Sementara, kegiatan kerja kelompok juga sangat menarik baik dalam format drama, kartun, webinar, rap dan tari; ‘world cafe’, pembuatan pernyataan kebijakan dan pembuatan kebijakan, ‘pitching’ sebagai konsultan dan sebagainya yang diajarkan lewat metode yang biasa digunakan McKinsey, yang diikuti dengan hadiah bagi para pemenang pertama, juga membuat seminar ini menantang dan menarik. Bahkan kebiasaan ini juga membuat para peserta terbawa untuk mengerjakan tugas kelompok dengan kreatif dan unik, meskipun tidak selalu diinstruksikan demikan.

Bukan hanya kedalaman argumen yang dituntut, namun juga kerja kelompok yang diinstruksikan juga mensyaratkan presentasi hasil kerja kelompok yang menarik dan meyakinkan. Hal ini pulalah yang juga ikut menyemarakkan suasana seminar dan meningkatkan semangat para peserta untuk muncul dengan ide yang kaya dan presentasi yang menarik dan menghibur. Dan sebagai orang yang liberal, tentunya kita sangat menyukai kompetisi dan insentif, bukan? Salam Kebebasan!

Sumber: Friedrich Naumann Foundation for Freedom (FNF)

Komentar