Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Saling Serang Debat Pilkada 2017

Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak gelombang kedua pada 15 Februari yang akan datang. Pilkada akan diikuti oleh 101 daerah dari tingkat provinsi, kabupaten, dan kota.

Kini menjelang hari pencoblosan, masing-masing Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) menyelenggarakan debat publik. Berdasarkan Peraturan KPU (PKPU) No 12 Tahun 2016 tentang Peraturan Komisi Pemilihan Umum Tentang Perubahan Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Kampanye Pemilihan Gubernur Dan Wakil Gubernur, Bupati Dan Wakil Bupati, Dan/Atau Walikota Dan Wakil Walikota. Pada pasal 5 ayat 3 poin a disebutkan bahwa KPU Provinsi/KIP Aceh dan/atau KPU/KIP Kabupaten/Kota memfasilitasi kampanye yang salah satunya meliputi debat publik atau debat terbuka antar Pasangan Calon.

Debat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2002: 209) adalah pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.

Pada pasal 21 Ayat 4 PKPU No 12 Tahun 2016, disebutkan bahwa debat publik atau debat terbuka sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diselenggarakan paling banyak 3 (tiga) kali pada masa kampanye. Dalam PKPU No 12 Tahun 2016 juga disebutkan bahwa debat publik ini disiarkan oleh lembaga penyiaran publik atau swasta, baik secara langsung maupun tunda.

Sehingga penyelenggaraan debat publik ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemilih terkait visi-misi dan program dari masing-masing kandidat pemimpin daerah. Pada kesempatan inilah pemilih dapat menilai kemampuan masing-masing kandidat.

Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah debat publik kini menjadi drama politik sebagai bagian dari strategi kampanye pasangan calon. Saling serang tidak lagi berkutat soal adu visi, misi, serta gagasan. Melainkan ranah pribadi sang calon.

Hal ini terlihat dalam debat Pilkada Gubernur DKI Jakarta. Dimana Cagub Anies Baswedan dipanggil dengan sebutan “Pak Menteri” oleh Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Sylviana Murni pada debat perdana Calon Gubernur DKI Jakarta (antaranews.com, 15/1/17). Sebutan ini menandakan sindiran untuk Anies yang pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Oktober 2014 hingga Juli 2016.

Di Pilkada Gubernur Banten, Serangan pertama dilakukan Cawagub Banten yang diusung PDIP dan PPP Embay Mulya Syarif yang menanyakan perihal korupsi kepada Andika Hazrumy. Seperti diketahui Andika merupakan anak dari mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah yang kini dipenjara karena kasus korupsi (rimanews.com, 29/1/17).

Bahkan di Pilkada Gubernur Gorontalo saling serang pribadi ini berbuntut laporan ke Kepolisian. Cagub nomor urut 1 di Pilgub Gorontalo, Hana Hasanah Fadel Muhammad, melaporkan pesaingnya, cagub nomor urut 2, Rusli Habibie, ke Polda Metro Jaya. Hana merasa telah dicemarkan nama baiknya setelah Rusli menyinggung soal dana PKK saat debat (detik.com, 26/1/17).

Menurut penulis, fenomena saling serang dalam debat pilkada ini sesungguhnya gambaran pemilu kita saat ini. Dimana dalam persaingan pemilu kita hari ini, citra seorang calon merupakan hal yang paling utama di mata publik.

Sejarawan Amerika Daniel Boorstin dalam The Image A: Guide to Pseudo Events in America, sebagaimana dikutip oleh Ria Rahmatul Istiqomah dalam Jurnal Interaksi (2013) “Kampanye Politik di Televisi sebagai Budaya Populer”, mengatakan bahwa citra menjadi lebih penting daripada substansi. Citra telah menggantikan pengalaman dan wacana sebagai cara untuk memahami dunia sosial. Kini kita dipertontonkan dalam sebuah dunia citra yang spektakuler dan menakjubkan. Kata citra kini merujuk pada kesan publik yang dibentuk dan dibuat-buat (Ria Rahmatul Istiqomah, 2013).

Berdasarkan dari pendapat diatas, penulis berpendapat bahwa tidak mengherankan jika citra pribadi sang calon merupakan target serangan utama. Karena dalam debat yang disaksikan oleh jutaan pemilih di layar televisi, pertarungan bukan lagi sekedar adu gagasan, tapi bagaimana saling menjatuhkan citra pesaing. Masyarakat atau pemilih akhirnya lebih disuguhkan aksi panggung para calon, dibandingkan mengangkat perdebatan visi, misi serta gagasan.

Arfianto Purbolaksono, Peneliti Bidang Politik The Indonesian Institute, arfianto@theindonesianinstitute.com

Komentar