Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Akurat.co

Pertarungan Sengit Dua Decacorn Transportasi Online, Mitra dan Konsumen Untung atau Buntung?

Transportasi online marak beberapa tahun belakangan, bahkan dalam waktu singkat sontak menjadi favorit masyarakat Indonesia khususnya di daerah perkotaan. Transportasi online roda dua dan roda empat dianggap mampu membelah kemacetan di kota besar seperti Jakarta. Serta membuat perjalanan menuju tempat kerja menjadi lebih nyaman.

Melihat begitu besarnya potensi transportasi online tersebut bermunculan beberapa perusahaan rintisan yang bergerak dibidang industri ride hailing itu. Khusus di Indonesia misalnya, kemunculan Go-Jek tergolong fenomenal dimata masyarakat Indonesia. Karena dianggap solusi dari masalah klasik masyarakat perkotaan yakni macet, belakangan muncul beberapa pesaing dimana menyasar industri yang dibidang yang sama. Sebut saja Uber dan Grab sendiri. Belakangan Uber berhasil diakusisi Grab, alhasil tinggal dua pemain besar di industri transportasi online tersebut.

Meski memiliki pesaing namun star up besutan Nadiem Makarim ini tetap tangguh dan terus melaju. Ungkapan ‘yang pertama akan akan selalu melengenda’ sepertinya pantas disematkan pada Go-Jek. Lambat laun Go-Jek semakin menancapkan pengaruhnya di Indonesia, bahkan ke Asia Tenggara.

Go-Jek perlahan-lahan sampai pada puncak keemasan. Untuk diketahui, lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia sudah kenal dengan start up asli Indonesia ini. Go-Jek begitu diminati bahkan sempat membuat industri transportasi konvensional seperti taksi goyang dan teriak-teriak. Meski kemudian mulai menata strategi digital sehingga bisa menyusul ekspansi Go-Jek.

Perlahan tapi pasti Go-Jek mulai menguasai pasar Indonesia hadir diberbagai Provinsi dan kota-kota besar bahkan belum lama ini Gojek melakukan ekspansi ke Asia Tenggara. Core bisnisnya pun mulai merambah industri lainnya yang berkaitan seperti Industri makanan, UMKM hingga jasa antar barang.

Kesuksesan Go-Jek bukan tanpa pesaing. Sebab ditempel ketat oleh Grab. Seakan tak ingin kehilangan momen Grab terus melakukan berbagai terobosan hingga pada akhirnya Uber berhasil diakuisisi. Masuknya Uber ke dalam manajemen Grab tentu saja membuat kompetisi semakin sengit. Masing-masing menjual promosi gila-gilaan seakan tidak kekurangan uang. Masing-Masing ingin menunjukkan kekutan modal dan ingin menjadi yang terbaik.

Seiring waktu berjalan CB Insight memasukkan Go-Jek dalam daftar The Global Unicorn Club di urutan ke 19 start up dunia dengan valuasi mencapai USD 10 Miliar.

Tak mau kalah Grab melalui, CEO Grab Anthony Tan yang sejak awal sudah menyatakan diri menjadi Decacorn kemudian merilis rencana ekspansi di Asia Tenggara dengan target pendanaan total mencapai sebesar USD6,5 miliar atau setara Rp90,6 triliun sampai akhir 2019 dari pendanaan Softbank.

Peneliti Indef Nailul Huda menilai persaingan Gojek dan Grab memasuki babak baru dimana saat ini persaingan lebih agresif dalam menarik konsumen. Menurutnya pasca Go-Jek dinobatkan sebagai decacorn serta merta membuat gebrakan dengan pemberian voucher dan potongan diskon melalui layanan Gopay. Tak mau ketinggalan Grab tancap gas dengan meningkatkan layanan pembayaran melalui OVO yang sudah mulai digunakan melalui aplikasi.

“Saya melihat mereka saling menggeser satu sama lain, namun kentara mereka ingin menyingkirkan pesaingnya masing-masing sebab secara bersamaan menerapkan kebijakan predatory pricing. Bisa jadi dimasa depan hanya akan berdua atau malah berkolusi,” katanya.

Aroma Persaingan Tak Sehat Makin Sengit

Harapan terwujudnya iklim bisnis dan industri ride-hailing yang sehat di Asia Tenggara nampaknya jauh panggang dari api. Sebab semakin sulit direalisasikan.

Apa pasal? ambisi Grab yang baru-baru ini mengumumkan sumber pendanaan baru dari Softbank sepertinya diarahkan untuk mematikan kompetisi. Grab menargetkan pendanaan total sebesar USD6,5 miliar atau setara Rp90,6 triliun sampai akhir 2019. CEO Grab Inc Anthony Tan, terang-terangan mengatakan Grab ingin empat kali lebih besar dari pesaing utamanya GO-Jek. Baik di Indonesia maupun seluruh Kawasan Asia Tenggara pada akhir tahun ini.

“Saya bertemu Masayoshi-san (CEO Softbank) minggu lalu dimana dia memberikan dukungan yang tidak terbatas untuk memperkuat pertumbuhan kami,” dikutip dari Blomberg (8/4/2019).

Sebagian ahli menilai kedua decacorn ini masih memberlakukan cara-cara kuno dimana masing-masing mengejar target dengan sistem predatory pricing (jual rugi). Hal ini berpotensi terjadi monopoli.

Lantas bagaimana sisi persaingan tersebut bisa masuk ranah KPPU, Komisioner KPPU, Kurnia Toha menilai meski mendapatkan tambahan investasi cukup besar dan Grab diperdiksi akan semakin besar namun sejauh ini masih belum melanggar hukum persaingan usaha.

Pendapat berbeda justru diungkap Pengamat Ekonomi Yanuar Rizky yang menilai masuknya investasi baru SoftBank sebesar USD1,4 miliar pada putaran pendanaan seri H GRAB Inc sebagai aksi konglomerasi dengan tujuan menciptakan monopoli di industri ojek online Asia Tenggara. Monopoli makin kentara dengan menerapkan tarif serendah-rendahnya bagi konsumen dengan harapan kompetitor tidak mampu bersaing.

“Itu arahnya konglomerasi bagaimana menguasai pasar dengan bakar duit mencapai harga serendah-rendahnya. Di satu sisi menguntungkan kosumen tapi di sisi lain ketika tidak ada saingan bisa seenaknya menentukan harga,” katanya.

Dampak Perang Tarif, Konsumen dan Mitra Untung atau Buntung?

Lantas bagaimana dengan nasib konsumen dan mitra pengemudi yang mengantung nasib pada Go-Jek dan Grab. Nasibnya terombang ambing dengan aroma tak sehat pertarungan dua Decacorn transportasi online Asia Tenggara ini?

Peneliti The Indonesian Institute Muhammad Rifki Fadilah menilai dengan Grab yang memberlakukan sistem predatory pricing atau harganya rendah. Alih-alih untuk kepentingan konsumen sebetulnya ini cara mereka membuat saingannya Go-Jek lama-lama mati dan Grab bisa menjadi satu-satunya penguasa pasar atau monopoli.

Hal ini bisa saja terjadi dengan catatan jika pihak Go-Jek tidak mampu menahan gempuran dari pihak Grab dengan investasi yang seimbang juga. Untuk itu diperlukan pihak pemerintah untuk terus menjaga iklim persaingan yang sehat. Jangan sampai merusak pasar dan menguntungkan sepihak.

“Saya bilang dampaknya bisa jadi perang tarif. Alih-alih memurahkan tarif supaya konsumen senang padahal ada maksud tertentu. Ini yang harus dihindari. Peran pemerintah di sini diperlukan untuk mencegah hal-hal yang merusak pasar tadi,” katanya.

Senada dengan itu Ekonom Indef Nailul Huda menjelaskan bahwa sejatinya industri transportasi online merupakan industri berbentuk two-sided market. Dimana ada dua sisi yang saling terhubung yaitu konsumen dan mitra pengemudi yang menjadi network platform kedua platform itu.

Secara alamiah kedua platform online ini akan lebih memprioritaskan konsumen dibanding mitranya. Konsuemen untuk sesaat akan diuntungkan namun tidak jika salah satu decacorn berhasil dihancurkan.

Di sisi lain yang paling menderita adalah mitra pengemudi. Sebab platform abai dalam membayar mitranya. Ia menduga nasib mitra pengemudi nampaknya akan dikorbankan demi perang tanding kedua decacorn Asia Tenggara ini.

“Nasib mitranya nampaknya akan dikorbankan untuk mengambil keuntungan bagi perusahaan aplikasi transportasi online ini,” pungkasnya.

Sumber: Akurat.co

Komentar