The indonesian Forum Seri 44 “Dampak Bantuan Pembangunan Internasional Terhadap Pemberdayaan Perempuan (Studi Kasus di Sulawesi Selatan)”

TEMA                  :Dampak Bantuan Pembangunan Internasional Terhadap Pemberdayaan
Perempuan (Studi Kasus di Sulawesi Selatan)

Pemateri           : Adinda Tenriangke Muchtar, Direktur Eksekutif The Indonesian Institute

 Pembahas        : Ani Widyani Soetjipto, Dosen Senior Hubungan Internasional FISIP UI

                                  Debra Yatim, Anggota Dewan Penasihat The Indonesian Institute

 

Moderator       :Abdul Rohim Gozali, Tenaga Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden

Partisipan        :Acara diskusi dihadiri oleh 29 orang dari berbagai institusi yang beragam. Ada yang berasal dari Scopus Global, MAMPU, Patrio, Kementerian ESDM, Phase, CSIS, IRI, APLHA-I, Dosen Politeknik STMI, dan USAID Jatim. Selain itu juga dihadiri oleh mahasiswa dari UI, UKI, dan Binus.

PEMBAHASAN

Moderator membuka acara dengan flashback terkait kegiatan the Indonesian Forum terdahulu.Agenda The Indonesian Forum kali ini merupakan TIF ke-44 diungkapkan bahwa tema diskusi sangat menarik menyongsong Hari Perempuan Internasional. Tema sangat menarik karena seperti kita ketahui bahwa mayoritas penduduk Indonesia beragammuslim. Kondisi ini lah yang cenderung mengakibatkan kondisi perempuan yang didiskriminasi. Bukan karena agamanya, akan tetapi karena penafsiran kita yang beragam terhadap berbagai ayat-ayat agama.

 

Lokasi penelitian yang akan disampaikan pemateri mengambil lokasi di Sulawesi Selatan. Secara umum, kondisi di Sulawesi Selatan mirip dengan di Aceh, di mana kondisi perempuan dikesampingkan, tetapi harus kita lihat juga nanti hasilnya seperti apa. Harapannya hasilnya akan berbeda dengan di daerah lain yang masih memberlakukan diskriminasi terhadap perempuan.

 

  1. Adinda Tenriangke Muchtar:Latar belakang diambilnya tema penelitian ini adalah karena alasan pribadi dan juga alasan pengalaman peneliti dalam bekerja sebelum menempuh studi. Pemateri ingin melihat apakah ada transformasi bantuan donor internasional dengan pemberdayaan perempuan. pemateri ingin melihat apa pemberdayaan perempuan, hubungan internasional, dan kaitan dengan pembangunan internasional.

 

Peran perempuan di proyek yang dilaksanakan dan pengalaman serta relasi antara perempuan dengan lembaga terkait dalam mempengaruhi isu pemberdayaan masyarakat menjadi konsentrasi penelitian ini.Bantuan internasional sendiri ada yang menilai dari sisi negatifnya, yaitu posisi donor yang terlalu dominan.Kemudian apakah lembaga donor juga melibatkan pemda setempat.Tantangan selanjutnya adalah bagaimana posisi berbagai pihak dengan berbagai macam kepentingan.

 

Lokasi penelitian ada di 4 kabupaten: Barus, Maros, Pangkep, Takalar. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan etnografik research selama 5 bulan berdasarkan paradigm konstraktifis.Alasannya karena metode ini sangat terkait dengan budaya. Sedangkan post colonial dapat menganalisis siapa yang paling berpengaruh terhadap kondisi di suatu wilayah. Post development sangat baik digunakan untuk melihat berbagai macam perspektif gender. Penekanannya adalah bahwa perempuan menjadi korban karena penindasan yang belripat ganda, karena tidak hanya mengalami di ranah pribadi tetapi juga di ranah public.Studi kasus oxfan menarik karena berjangka waktu lama, yang menarik adalah melibatkan 4 suku sehingga menjadikan studi kasus Oxfam sangat menarik.

 

Keterlibatan perempuan dalam proyek RCL adalah dalam hal teknikal.Awalnya, perempuan penerima manfaat belum dapat membaca dan menulis.Sehingga program dilaksanakan untuk memberikan materi baca tulis ke perempuan. Selain itu, Ada program penguatan ekonomi yang akan meningkatkan pemberdayaan perempuan. dengan adanya projek ekonomi, perempuan tidak hanya dipandang sebelah mata, dan turut dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di suku mereka, seperti hadir dalam rapat-rapat, dll.

 

Pembelajaran dari partisipasi perempuan dalam projek RCL: banyak aspek dari pemberdayaan yang bisa dilihat, bagaimana pemberdayaan ekonomi bisa mempengaruhi pemberdayaan perempuan di aspek lain, relasi perempuan berubah antara perempuan dengan suami, anak, tetangga, masyarakat, bahkan dengan otoritas setempat, pemberdayaan perempuan membutuhkan lingkungan eksternal dan internal karena ketika lembaga donor sudah selesai programnya maka akan sangat dibutuhkan dukungan dari suami, keluarga, dan lingkungan.

 

Temuan penelitian: tahun awal proyek perempuan hanya sebagai partisipasi proyek. Menjelang tahun ke-3 perempuan peserta akan lebih berperan (penerima manfaat aktif dan penggerak proyek). Posisi dan peran perempuan juga berubah karena program-program yang ada di proyek, seperti kelompok ekonomi, dll.Selain itu, bagaimana posisi perempuan diposisikan dalam masyarakat sangat mempengaruhi bagaimana perempuan menilai dirinya sendiri. Persepsi perempuan terhadap kegiatan antara lain dengan adanya program, perempuan merasa lebih bisa berdaya, misalnya dengan bisa menghasilkan uang sendiri dan bisa membeli barang sendiri. Pengaruh intervensi pembangunan terhadap perempuan dapat berlangsung dengan donor internasional.Hal ini karena SDM dan kausa yang dimiliki lebih besar daripada lembaga local.Persepsi tergantung pengalaman relasi perempuan dengan anggota proyek.

 

Beberapa cerita tentang perempuan penerima manfaat mengungkapkan bahwa program RCL membantu perempuan untuk mengambil rapot karena perempuan bisa membaca dan menulis; perempuan penerima manfaat merasa dianggap dan merasa lebih kenal dengan orang di luar daerahnya; perempuan penerima manfaat mendapatkan berbagai macam penghargaan regional, nasional dan membuat perempuan tersebut merasa lebih dihargai, merasa memiliki pendapatan dan kegiatan; perempuan penerima manfaat merasa kelompok ekonomi yang mereka ikuti mampu membuat mereka lebih percaya diri untuk mengikuti rapat-rapat dan meningkatkan rasa kekeluargaan antar anggota kelompok.

 

Kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian adalah bahwa proyek internasional ada sisi kritiknya tetapi manfaatnya juga besar; agency penting untuk mendorong pemberdayaan perempuan, empowerment meliputi 5cs dan 4as; diperlukan intervensi pembangunan yang refleksif dan kontekstual  (harus dilihat bagaimana proyek akan bekerja, bagaimana akan bekerja, bagaimana sumber daya nya, apakah akan melibatkan pihak lokal, dan melakukan pendekatan buttom up).

 

 

  1. Debra Yatim: LSM sering diduga sebagai antek-antek barat, lembaga yang membocorkan rahasia negara.Persoalan yang muncul adalah ketika ada keberhasilan dalam suatu keluarga, siapa yang akan berperan sebagai pengambil keputusan. Pengambil keputusan terbanyak sebenarnya pihak perempuan, tetapi pihak barat selalu mengatakan bahwa Sistem Partiarkhi selalu menganggap bahwa pengambil keputusan adalah laki-laki.

 

Apa yang diungkapkan Dinda sebagai hasil penelitian sebenarnya wujud neo-kolonialisme.Konsep prinsip ekualiti diberikan oleh pihak barat, kemudian didistribusikan ke masyarakat.Tetapi kemudian kita menyalahkan budaya. Jika donor merupakan donor lokal apakah akan tetap mengajukan intervensi yang sama kepada masyarakat lokal tempat penelitian. Penanggap menyatakan bahwa sangat tertarik dengan statement bahwa jika seseorang diberikan label lemah maka akan terlihat lemah. Sebaliknya jika diberi kepercayaan sebagai pengambil keputusan, akan meningkatkan kepercayaan diri. Intervensi pembangunan yang dulu menjadi ‘momok’ harus disikapi dan dipelajari dengan baik. Senjata kita yang baru adalah post feminal frame!

 

  1. Ani Widyani Soetjipto:Penanggap menyatakan bahwa sangat mengapresiasi topic yang diangkat oleh pemateri terkait multidimensional/ multilayers proyek di lapangan. Program Sulsel merupakan multilayers. Dana dari Kanada, dilaksanakan oleh Oxfam yang bekerjasama dengan 3 lembaga local, dan kemudian berhubungan dengan lokus penelitian.

 

Penanggap mempertanyakan terkait dengan kepentingan antara lembaga donor, Oxfam, pemerintah Indonesia, sampai pemerintah daerah, apakah sesuai atau tidak sesuai.Pasti ada kaitan target antar pihak yang memerlukan negosiasi secara pasti.Pihak yang paling lemah adalah pihak yang terendah, yaitu pihak recipient.Bagaimana caranya memasukkan beberapa aspek di tengah-tengah berbagai kepentingan tersebut.Konsep pemberdayaan perempuan sangat berbeda-beda.Artinya bisa berarti tujuan atau sarana.Penaggap juga mempertanyakan bagaimana seluruh pihak mempengaruhi dari atas-bawah, bawah-atas.

 

Dalam kajian feminist, pemberdayaan perempuan juga berarti apakah ada pergeseran relasi kuasa dari kondisi sebelum dan sesudah.Apakah berdampak ke bagian hulu atau tidak. Dinda mengatakan bahwa empowerment economic itu bisa mempengaruhi pemberdayaan perempuan di sector lain. Akan tetapi, jika tidak ada dampak ke hulu, maka tidak akan sustain.

 

Kelemahan proyek umumnya selalu memfokuskan pada aspek ekonomi, padahal banyak aspek.Perempuan sebenarnya terdiskriminasi tidak hanya terkait ekonomi, tapi multilayers.Jika hanya menyasar ekonomi saja, tetap saja ada diskriminasi.Dan rata-rata dilakukan generalisasi terhadap semua aspek, padahal sangat berbeda!

 

Tantangan penelitian Dinda adalah bagaimana peran institusi pelaku proyek bernegosiasi dengan pihak-pihak terkait (institusi birokrasi).Institusi birokrasi merupakan penghambat terhadap pemberdayaan perempuan, mereka tidak paham.Kesimpulan Dinda tentang 5cs, 4as yang agak berbeda dengan konsep feminist. Konsep ini melihat pemberdayaan dari dua sisi dan saling terkait.

FORUM DISKUSI

Peserta:

Atik (MAMPU): Konteks sangat berpengaruh, beberapa proyek dari donor luar membawa konsep yang sudah dibuat sebelumnya. Selalu kita hanya melihat real di lapangan dan apa yang bisa kita bantu dengan kondisi kita saat ini. Dengan penelitian Dinda, saya ingin mengetahui dengan konsep pemberdayaan perempuan yang mereka buat dalam konteks yang lebih luas setelah implementasinya apakah konsep itu sesuai dengan budaya? Dalam arti perempuan di sana melanjutkan proyek itu atau tidak?Saya sepakat bahwa gender tidak melulu terhadap perempuan, tetapi termasuk pada laki-laki dan anak.

Pemateri mendorong pendekatan donor untuk melakukan pendekatan buttom up karena belum tentu pengetahuan yang dimilik lembaga donor sesuai dengan kondisi di lapangan (lokasi proyek). Sustainabilitas juga dapat dicapai dengan metode pendekatan ini.

Made Dharma (POLITEKNIK STMI): Kenapa tidak donor hanya menyediakan dana tetapi konsep dan pelaksana tetap kita sebagai tuan rumah. Proyek selalu sifatnya tidak continue, proyek habis kegiatan selesai. Bagaimana cara membuat itu tetap berlangsung?

Proyek sifatnya memang terbatas, tetapi untuk menjaga sustainabilitas proyek memang tidak bisa karena dana dari donor juga terbatas. Yang perlu kita jaga sustainabilitasnya adalah dampak dari proyek itu sendiri.

Boni: Era kami (dulu) melihat bantuan secara kritis. Semua melihat bantuan sebagai sesuatu yang merusak. Bantuan itu bisa kita pakai untuk apa. Bagaimana bantuan sekarang, apakah ada perubahan atau tidak? Funding memperkerjakan kalangan professional. Di setiap layers sebetulnya kita bisa memainkan keuntungan. Apakah Dinda juga melihat sampai sejauh itu? Kedua ingin ditanyakan mengenai teori post feminist yang dipakai bagaimana ceritanya?

Teori ini lebih melihat relasi kuasa antara donor dan penerima manfaat, konteks termasuk budaya sosial, interseksionaliti dari berbagai aktor dan berbagai kepentingan. Keuntungan teori ini adalah memberikan ruang dan suara untuk orang-orang yang terpinggirkan.

Download Rangkuman Diskusi Download Materi Diskusi Download Tesis Adinda Tenriangke Muchtar

 

The Indonesian Forum_Rangkuman_Diskusi_Seri44_7 Maret 2018

Adinda’s PPT for The Indonesian Forum 44- 7 March 2018 – The Indonesian Institute (1)

FINAL THESIS-Adinda Tenriangke Muchtar – 300313069 – UNDERSTANDING THE INFLUENCE OF DEVELOPMENT INTERVENTIONS ON WOMEN BENEFICIARIES -21Sept2017(1)

Komentar