Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Sikapi The Fed, BI Diminta Tak Tergesa-Gesa

Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan kembali melakukan pelonggaran kebijakan moneter yang akomodatif menyusul bank sentral Amerika Serikat atau The Fed menurunkan suku bunganya. Namun, BI diminta untuk tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan tersebut. Menurut Peneliti Ekonomi The Indonesian Institute Rifki Fadilah, kompensasi yang diberikan BI sebelumnya sudah cukup akomodatif.

Rifki mengatakan kompensasi dengan menurunkanbunga acuannya sebanyak 25 basis poin dari 6 persen menjadi 5,75 persen dan 50 basis poi untuk Giro Wajib Minumum (GWM) dari 6,5 persen menjadi 6 persen untuk bank umum sudahdapat menstimulus perekonomian nasional.

Dari sisi eksternal, dia mengatakan posisi Indonesia masih belum sepenuhnya aman untuk menurunkan kembali suku bunganya lantaran masih tingginya eskalasi ketegangan perdagangan antar negara-negara di dunia. Juga sikap The Fed yang diproyeksikan tidak akan mengerek turun lagi bunga acuannya tahun ini.

Sementara itu, dari sisis domestik, Rifki mengingatkan bahwa akan ada peningkatan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) pada kuartal kedua tahun ini. Ini sejalan dengan kebutuhan repatriasi dividen dan pembayaran bunga utang luar negeri (ULN).

Rifki juga mengatakan bahwa transaksi berjalan akan mendapat tekanan yang lebih berat akibat defisit neraca perdagangan barang sebesar 1,87 miliar dolar AS. Kondisi defisit neraca perdagangan ini lebih dalam ketimbang kuartal II 2018 sebesar 1,45 miliar dolar AS. “Defisit transaksi berjalan yang melebar juga akan lebih berat akibat adanya peningkatan defisit neraca pendapatan primer serta surplus neraca perdagangan barang yang menurun,” ungkap Rifki, Jumat (2/8).

Menurutnya, peningkatan CAD ini membuat Indonesia membutuhkan kenaikan permintaan valuta asing dalam jumlah substansial dan berpotensi menguras cadangan devisa.Rifki mengungkapkan, apabila defisit transaksi berjalan tak dapat diimbangi dengan pasokan devisa dari portofolio keuangan seperti hot money maka neraca pembayaran Indonesia (NPI) akan semakin parah. Hal itu akan membuat keseimbangan eksternal jomplang karena devisa yang keluar lebih banyak dibandingkan yang masuk.

Kondisi tersebut tentu juga tidak baik bagi perekonomian domestik. Oleh karenanya, dengan tetap menahan suku bunga acuan, pasar keuangan domestik akan memiliki daya saing untuk menarik arus modal asing masuk guna mengobati CAD. “Oleh karena itu, saya menyarankan BI untuk tetap menahan suku bunga acuan supaya pasar keuangan domestik memiliki daya saing, ini menjadi insentif untuk menarik arus modal asing masuk di saat negara-negara lain menurunkan suku bunga acuannya,” ungkapnya.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarkomenyatakan masih ada potensi pelonggaran kebijakan moneter seiring dengan penurunan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat atauThe Federal Reserve (TheFed).

“Bank Indonesia memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut,” kata Onny, Kamis (1/8).

Dalam Rapat Dewan Gubernur Juli 2019 lalu, BI telah menurunkan suku bunga acuan atau BI 7-dayReverse Repo Rate(BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen, suku bungaDeposit Facilitysebesar 25 bps menjadi sebesar 5 persen, dan suku bungaLending Facilitysebesar 25 bps menjadi 6,50 persen.

Kebijakan tersebut ditempuh sejalan dengan tetap rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi ketidakpastian pasar keuangan global yang menurun dan stabilitas eksternal yang terkendali.

Pasalnya strategi operasi moneter tetap diarahkan untuk memastikan ketersediaan likuiditas di pasar uang dan memperkuat transmisi kebijakan moneter yang akomodatif.Kebijakan makroprudensial tetap akomodatif untuk mendorong penyaluran kredit perbankan dan memperluas pembiayaan bagi perekonomian. Kebijakan sistem pembayaran dan pendalaman pasar keuangan juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sumber: Harian Ekonomi Neraca

Komentar