Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Perencanaankota.blogspot.com.

Pilkada Bukan Obat Generik Selesaikan Masalah Jakarta.

JAKARTA – Menuju pemilihan umum kepala daerah pada 11 Juli 2012 nanti, Jakarta banjir visi dan misi dari calon gubernur dan wakil gubernur. Dari enam calon pasangan berlomba menjanjikan mengubah Jakarta keluar dari persoalan pelik, banjir, macet, kesejahteraan dan lainnya.

Pakar tata kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna menilai  persoalan Jakarta warisan jaman baheula. Sejak jaman VOC, Jakarta tidak pernah dijadikan ibukota, tapi hanya bandar pelabuhan. Kontur tanahnya di bawah Bogor yang kota hujan, membuat Jakarta kerap langganan banjir.

“Pilkada bukan obat generik untuk menyelesaikan Jakarta. Siapapun yang terpilih dia tidak akan menyelesaikan Jakarta,” ujar Yayat dalam diskusi, ‘Banjir Jakarta: Persoalan Lingkungan atau Politik?’ di Indonesian Institute, Jakarta Pusat, Rabu (20/6/2012).

Dikatakan Yayat, Jakarta sudah lama memiliki master plan yang bagus di setiap lini. Namun, tanpa menyertakan peran masyarakat, strategi membangun Jakarta lebih baik menjadi tak berarti. Dalam setiap pembangunan kota, lanjut Yayat, tetap harus menggandeng masyarakat.

Harus diingat, persoalan Jakarta terletak pada penerapan tata ruang yang salah. Posisi Jakarta diapit banyak kota sekitarnya. Sebut saja Bogor yang memiliki kawasan Puncak. Kini tanah di Puncak lebih banyak dijadikan villa, dan lahan pertanian berkurang.

Sementara pembangunan Jakarta lebih fokus pada urusan struktural seperti membangun giant sea wall. Upaya ini lebih pada mengatasi banjir yang datang ke Jakarta. Justeru, dengan mengabaikan tata ruang, Jakarta akan bertambah parah ke depan.

“Memang lebih menarik penyelesaian secara struktur. Bangun tanggul raksasa dan lain-lain. Tapi jangan lupa tanpa penyelesaian masalah non struktur, semuanya akan sama saja. Bajir bukan komoditas yang ditawarkan,” tandas Yayat.

Sumber: Tribunnews.com.

Komentar