Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Klikberita.co.id

Peringatan May Day 2019, Pengamat: Tingkatkan Partisipasi Penyandang Disabilitas

Serikat buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) akan menggelar aksi dalam rangka peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 01 Mei 2019 mendatang. Adapun salah satu yang menjadi tuntutan buruh dalam May Day ini yaitu revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan.

Menanggapi hal tersebut, Pengamat Ekonomi The Indonesian Institute, M. Rifki Fadilah, menilai bahwa selain masalah pengupahan ada isu berikutnya yang juga harus dibawa dalam May Day nanti, yaitu mengenai masalah inklusivitas tenaga kerja, khususnya partisipasi kaum penyandang disabilitas dalam pasar tenaga kerja Indonesia.

“Besok 1 Mei seperti biasa akan ada peringatan Hari Buruh Internasional, tahun ini tuntutannya mengenai pengupahan. Selain tuntutan tersebut, saya juga mengingatkan bahwa ada satu isu krusial lainnya, yaitu kita juga harus meningkatkan partisipasi angkatan kerja untuk penyandang disabilitas,” ungkap Rifki pada Klikberita.co.id di Jakarta, Selasa (30/04/2019).

Di Indonesia sendiri, mengutip data Sakernas tahun 2016, tercatat bahwa jumlah penyandang difabel untuk penduduk dengan umur di atas 15 tahun adalah 12.15% (sekitar 22.8 juta). Dari persentase tersebut, ada sekitar 1.87% penduduk yang dikategorikan dalam disabilitas berat, sedangkan 10.29% sisanya adalah ringan.

Lebih lanjut Rifki menunjukkan bahwa dalam laporan akhir Badan Perburuhan Dunia PBB, ILO pada tahun 2017, mencatat dari keseluruhan lapangan pekerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja untuk penyandang disabilitas ringan hanya 56,72 persen dan untuk penyandang disabilitas berat hanya 20,27 persen. Persentase tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan tingkat partisipasi angkatan kerja non-penyandang disabilitas, yaitu 70,40 persen.

Kemudian, dilansir dari situs Tempo.co bulan November 2018 silam, menunjukkan bahwa dari 440 perusahaan dengan tenaga kerja sekitar 237 ribu orang, tenaga kerja disabilitas yang terserap baru sekitar 2.851 orang atau sekitar 1,2 persen saja. Situs tersebut juga menerangkan bahwa berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2017, penduduk usia kerja disabilitas nasional sebanyak 21,9 juta orang. Dari jumlah tersebut, hanya 10,8 juta orang yang sudah bekerja.

“Kita lihat, tingkat partisipasi angkatan kerja teman-teman kita yang menyandang disabilitas masih rendah, berada di kisaran 20 persenan, sedangkan angkatan kerja non-disabilitas hampir 70 persenan, sedangkan penyerapan di perusahaan-perusahaan dari total keseluruhan angkatan kerja penyandang disabilitas hanya 1,2 persenan saja. Artinya dapat diasumsikan juga masih banyak perusahaan yang belum memfasilitasi dan menerima pekerja difabel serta masih minim jaminan perlindungan perusahaan untuk melindungi para pekerja difabel,” beber Rifki.

Untuk itu Rifki berharap, ke depan para penyandang disabilitas harus ditingkatkan angka partisipasinya di dalam angkatan kerja Indonesia. Perusahaan juga harus merubah paradigma mereka tentang para penyandang disabilitas selama ini. Berangkat dari hal ini, maka masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan pemerintah dalam mengakomodasi penyandang disabilitas ke depan, khususnya di dunia kerja.

“Untuk itu saya berharap, dengan adanya May Day 2019, kita juga harus memperhatikan inklusivitas kepada para penyandang disabilitas untuk berkontribusi dan berperan aktif dalam perekonomian kita. Khususnya untuk mendapatkan akses pekerjaab tanpa pendiskriminasian di dalam pasar tenaga kerja karena hal ini penting terkit dengan tujuan kesejahteraan yang merata untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali dan menjalankan amanat undang-undang yang berlaku,” tutup Muhamad Rifki Fadilah, Pengamat Ekonomi, The Indonesian Institute.

Sumber: Klikberita.co.id

Komentar