Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Perbaikan Jalan Pantura, Proyek Abadi Menjelang Hari Fitri

arfiantoMenjelang mudik Hari Raya Idul Fitri, banyak ruas jalan di Pantai Utara (Pantura) Jawa mengalami perbaikan. Perbaikan jalan seakan menjadi ritual setiap tahunnya. Menurut data Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dalam 4 tahun terakhir ini saja, anggaran perbaikan jalan di Pantura mencapai Rp 4,68 triliun.
Sedangkan di dalam APBN Perubahan 2013, dana perbaikan jalan di Pantura mencapai Rp 1,2 triliun. Dana ini digunakan untuk ruas Pantura sepanjang 1.300 kilometer. Menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, anggaran tahunan Rp 1,2 triliun, diperuntukkan untuk pemeliharaan rutin dan berkala, sedangkan untuk membangun jalan baru per tahun kira-kira hanya 20 km (setkab.go.id, 25/ 4)
Digelontorkannya anggaran triliunan rupiah untuk perbaikan dan perawatan jalan di Pantura tiap tahun jelang arus mudik lebaran memunculkan dugaan adanya praktik korupsi di proyek tersebut. Ali Masykur Musa, Anggota IV BPK mengatakan, BPK akan melakukan audit secara khusus pemeliharaan jalan Pantura karena anggaran untuk perawatan jalan itu sangat besar dan dipersiapkan setiap tahun (merdeka.com, 23/7)
Hal ini juga mendapat respon dari Ketua KPK Abraham Samad. Menurutnya, sejauh ini KPK telah menerima laporan dari masyarakat dan sedang memverifikasinya. Jika ditemukan sesuatu, KPK akan menindak lanjutinya dengan investigasi (Koran Tempo, 23/7)
Koordinator Advokasi dan Investigasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Uchok Sky Khadafi mengatakan adanya anggaran sebesar Rp 256 miliar yang digunakan untuk memperbaiki jalur yang sama dalam tiga tahun terakhir. Jalur tersebut berada di daerah Karawang hingga Losari, Cirebon. (lensaindonesia.com, 20/7).

Hal ini menimbulkan kecurigaan adanya  penyimpangan dalam proyek abadi perawatan dan perbaikan jalan pantura. FITRA juga mempertanyakan mengapa perbaikan selalu dilakukan setiap tahun dengan menghabiskan anggaran cukup besar. Menjawab polemik tersebut, Kementerian PU  melalui Dirjen Bina Marga Kementerian PU, Djoko Murjanto, mengatakan perawatan dan perbaikan rutin dari Pantura harus dilakukan. Hal ini dikarenakan pertama, volume lalu lintas harian yang rata-rata mencapai 45 ribu kendaraan setiap harinya.
Kedua, beban berlebih (overloading) dari truk logistik yang melintas di Pantura hingga mencapai 90 ton, padahal jalan Pantura dirancang dengan kekuatan jalan hanya mencapai 10 ton (setkab.go.id, 25/4). Ketiga, jalur Pantura yang masih menjadi jalur utama guna menunjang ekonomi di Pulau Jawa maupun aktivitas masyarakat umum lainnya.

Persoalan-persoalan tersebut terkesan menjadi alasan mengapa Kementerian PU melaksanakan proyek abadi tersebut. Sehingga sangat wajar pula banyak kalangan yang mencurigai proyek perbaikan dan perawatan jalan Pantura, merupakan proyek bancakan banyak kelompok guna meraup keuntungan.

Oleh karena itu, diharapkan pemerintah merespon hal ini dengan segera untuk mengambil langkah-langkah perubahan ke depannya. Diperlukan pertama, BPK melakukan audit terhadap proyek perawatan dan perbaikan jalan di Pantura.

Kedua, KPK segera menindak lanjuti laporan masyarakat untuk melakukan investigasi terhadap adanya penyimpangan proyek perawatan dan perbaikan jalan di Pantura.

Ketiga, Pemerintah segera mengoptimalkan moda transportasi alternatif, seperti kereta api guna menunjang distribusi logistik di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan untuk mengurangi volume kendaraan di jalan Pantura.

Arfianto Purbolaksono – Peneliti Yunior Bidang Politik The Indonesian Institute arfianto@theindonesianinstitute.com

Komentar