Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Akurat.co

Masih Ada Ketimpangan Partisipasi Kerja, Pengamat: Perlu Kolaborasi!

Badan Pusat Statistik (BPS) masih mencatat adanya ketimpangan dalam partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan. Berdasarkan data yang dirilis BPS pada Senin (6/5/19) tingkat partisipasi angkatan kerja per Februari 2019 untuk laki-laki mencapai 83,18 persen, sedangkan perempuan hanya 55,50 persen.

Meskipun angka ini mengalami kenaikan, jika dibandingkan dengan data Februari 2018 kemarin. Dimana tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki naik lebih tinggi dari 83,01 persen menjadi 83,18 persen. Akan tetapi tingkat partisipasi perempuan hanya naik 0,06 persen poin.

Menanggapi hal tersebut, Ekonom The Indonesian Institute, M. Rifki Fadilah menilai bahwa perlu adanya kolaborasi untuk meningkatkan partisipasi kerja perempuan di Tanah Air guna mendorong pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang inklusif.

“Kita lihat masalah partisipasi kerja perempuan masih rendah dibandingkan laki-laki, artinya masih ada ketimpangan yang cukup serius soal partisipasi ini. Oleh karenanya semua pihak seperti pemerintah, swasta, dan individu harus berpartisipasi untuk meningkatkan peran kerja perempuan guna mendorong pertumbuhan dan pembangunan inklusif,” tutur Rifki.

Lebih lanjut, Rifki mengungkapkan menurut Riset McKinsey pada 2018 menunjukkan, kesetaraan gender bisa meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan Indonesia sebesar USD135 miliar pada 2025.

Apabila Indonesia gagal mengatasi kesetaraan gender, maka negara ini akan kehilangan potensi tersebut.

“Artinya dari riset tersebut, apabila persoalan tersebut bisa kita diatasi maka Indonesia berpeluang meningkatkan PDBhingga USD135 miliar pada 2025. Jelas kan besar sekali peran perempuan untuk bisa mendongkrak PDB ,”jelas Rifki.

Rifki juga menunjukkan hasil riset yag sejalan dengan temuan McKinser, dimana secara global, berdasarkan kajian World Economic Forum (WEF) 2017 mengindikasikan jika kesetaraan gender akan meningkatkan pertumbuhan domestik bruto (PDB) global sebesar USD5,3 triliun.

“Kan sudah banyak studi yang mencoba menguantifikasi potensi manfaat dari mereduksi ketimpangan gender bagi perekonomian. Umumnya, penelitian menemukan bahwa terobosan kecil untuk menutup ketimpangan gender akan menunjukkan hasil yang signifikan,”pungkasnya.

Sumber: Akurat.co

Komentar