Mendorong Laki-Laki ber-KB Menyongsong Hari Perempuan International

Tanggal 8 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Momen ini harusnya dapat kita jadikan pemacu semangat untuk memenuhi keadilan gender di segala bidang. Namun, nyatanya masih banyak permasalahan ketimpangan gender termasuk terkait permasalahan penggunaan alat/ metode KB. Padahal, salah satu tujuan adanya Program KB adalah untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan.

Statistik Rutin BKKBN dalam Laporan Profil Kesehatan Indonesia yang diterbitkan oleh Kemenkes tahun 2017 menginformasikan bahwa per bulan Desember 2016 partisipasi laki-laki dalam KB hanya 4.04 persen saja, yang meliputi kondom dan vasektomi. Hal ini juga selaras dengan data dari Laporan SDKI (Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia) 2012 yang menyatakan bahwa partisipasi laki-laki hanya 4.7 persen. Rendahnya angka partisipasi laki-laki dalam KB sangat terkait dengan stereotype masyarakat kita yang masih memandang bahwa KB adalah urusan kaum perempuan. Laki-laki bertanggung jawab mencari nafkah, sedangkan masalah lainnya seperti mengurus anak sampai urusan kesehatan reproduksi dipandang hanya menjadi tanggung jawab perempuan.

Konsep berpikir yang masih terkotak-kotak tentang peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga menjadikan perempuan semakin tidak diuntungkan. Partisipasi perempuan dalam KB sangat mungkin menimbulkan berbagai macam risiko kesehatan bagi diri mereka, terlebih mayoritas perempuan Indonesia (>70 persen) menggunakan kontrasepsi jenis hormonal seperti pil KB dan suntik KB. Metode KB hormonal seperti suntik dan pil sangat mempengaruhi kesehatan perempuan. Pil KB dapat menyebabkan hipertensi, pendarahan, perubahan berat badan, serta sakit kepala. Suntik KB dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, keputihan, perubahan berat badan, bahkan perubahan libido (PIRAMIDA Journal Vol. VIII No.2: 93-102).

Efek samping yang dialami perempuan justru terkadang tidak diterima oleh para lelaki, seperti misalnya efek berat badan. Ketika perempuan atau istri mereka mengalami penambahan berat badan secara signifikan sebagai efek samping dari metode hormonal, mereka mempermasalahkannya. Padahal, istri mereka mungkin tidak cocok menggunakan KB non-hormonal seperti IUD (Intra Uterine Device). Kondisi ini pun tidak juga mendorong laki-laki berpartisipasi dalam Program KB. Padahal, tanggung jawab reproduksi harus ditanggung bersama antara laki-laki dan perempuan, termasuk keputusan jenis kontrasepsi yang dipilih.

 

Menyongsong Hari Perempuan Internasional dengan Paradigma Baru

Partisipasi laki-laki dalam KB harus didorong dari berbagai arah. Pertama, pemerintah sebagai pemangku kebijakan harus terus mencari alternatif metode/ alat kontrasepsi khusus laik-laki karena terbatasnya alternatif juga menyebabkan enggannya para lelaki untuk ber-KB. Kedua, pemerintah harus terus menggalakkan program kesetaraan gender termasuk dalam pengambilan keputusan ber-KB dalam rumah tangga. Hal ini dapat didukung dengan menggerakkan tenaga kesehatan yang melayani program KB untuk selalu memberikan konseling KB dan mendorong partisipasi laki-laki untuk ber-KB.

Ketiga, pemerintah harus membuat suatu program penyuluhan “melek isu gender”, misalnya dengan bekerja sama dengan organisasi PKK pada level desa atau Dasawisma pada level RT. Strategi menggandeng tokoh masyarakat, tokoh agama, bahkan tokoh adat patut dicoba agar dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar dalam menghilangkan paradigma yang keliru bahwa KB adalah tanggung jawab perempuan saja.

Sudah saatnya semua pihak baik pemerintah, masyarakat, keluarga, individu apapun gendernya untuk turut berpartisipasi dalam meluruskan konsep keadilan gender dalam KB, terlebih menyongsong Hari Perempuan Internasional 8 Maret mendatang.

Umi Lutfiah, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, [email protected]

Komentar