Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Antara

Klaim Peneliti Soal Pemakaian Kain Waring di Kali Item Tidak Relevan

Menjelang Asian Games 2018 pada Agustus mendatang, sejumlah perhelatan dilakukan demi lancarnya acara ini. Salah satunya yakni penanganan Kali Sentiong atau biasa disebut Kali Item. Sejumlah pihak seperti Pemprov DKI Jakarta, pemerintah pusat hingga Keluarga Besar Alumni UGM DKI Jakarta (Kagama) ikut serta berupaya dalam penangan Kali Item tersebut agar menajdi bersih dan normal.

Sejumlah upaya dilakukan, dimulai dari pemasangan kain waring, aerator, nano nubble, blower, surface aerator, rekayasa aliran air, penyemprotan cairan penghilang bau, penyemprotan cairan mmikroba hingga menabur bubuk penghilang bau.

Dilansir dari suara.com Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Intitute, Umi Lutfiah mengatakan jika dilihat berbegai upaya yang telah dilakukan merupakan penanggulangan dari sektor hulu. Padahal, yang harus dipikirkan adalah bagiamana cara menanggulangi masalah Kali Item mulai dari sisi hilir atau pencengahan.

Upaya untuk pencengahan hulu akan membutuhkan biaya yang banyak dan tidak murah. Nano nubble bisa digunakan namun sangat tergantung dari seberapa besar tingkatpencemarannya dan pasti biaya untuk nano nubble tentu tidak murah.

Pemasangan kain waring merupakan Salah satu upaya yang sangat tidak relavan untuk dilakukan. Cara ini hanya akan menambah biaya pengluran operasional. Selain itu tingkat keefektifan kain waring ini patut dipertanyakan, karena setelah pemasangan kain waring bau di Kali Item tidak kunjung menggurang.

Adapun upaya lain, seperti penggelontoran aliran air dan penyebaran cairan mikroba hingga serbuk DeoGone yang dilakukan oleh Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sebenarnya bisa cukup membantu. Namun terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam penangan Kali Item ini.

Hal yang pertama, penguatan koordinasi antar pihak yang peduli terhadap Kali Item. Koordinasi sangat diperlukan agar upaya yang dilakukan lebih terstruktur sehingga tingkat keberhasilan dapat tercipta.

Hal yang kedua, fokus penanganan pada sektor hilir atau pencengahan. Dilansir ladri suara.com . Data dari BPPT menyebutkan, 75 persen pencemaran air sungai di DKI Jakarta disebabkan oleh limbah domestik. Limbah domestik ini justru limbah yang berasal dari rumah tangga, perkantoran, toko, pasar, mal, hotel, dan sekolah-sekolah baik grey water (air bekas) ataupun black water (air kotor/tinja).

“Fakta tersebut harusnya kembali menyadarkan pemerintah untuk berupaya mengendalikan air limbah domestik ini,” ujar Umi dkutip dari suara.com, Selasa (31/7/2018).

Salah satu cara jangka panjang yang dapt dilakukan yakni dengan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Namun biaya yang mahal menjadi beban utama dalam cara ini. Setidaknya untuk membuat satu IPAL yang bisa menampung 150 kepala keluarga dibutuhkan biaya Rp.100 juta, belum lgi biaya untuk penghalihan lahan yang membutuhkan lahan 500 meter persegi. Alasan mahalnya biaya pembuatan IPAL dapat disiasati dengan memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan-perusahaan yang menaruh perhatian kepada isu sanitasi.

Dalam masalah ini peran swasta sangat dibutuhkan karena diharpkan dapat menguranggi beban penanggulangan masalah Kali Item yang berada di tangan pemerintah. Selain itu penanggulan masalah pencemaran Kali Item ini  diharapkan terus berlanjut, jangan hanya dilakukan ketika momen Asian Games.

Sumber: Dreamers.id

Komentar