Foto Nu.or.id

Waspada! Ujaran Kebencian ‘Menjamur’ Di Tahun Politik, Ini Alasannya

Peneliti The Indonesian Institute, Arfianto Purbolaksono meminta seluruh pihak mewaspadai kemungkinan terjadinya peningkatan praktik ujaran kebencian dalam tahun politik 2018-2019.

“Semakin dekat dengan agenda kontestasi politik, maka ujaran kebencian akan semakin meningkat. Ujaran kebencian digunakan sebagai salah satu strategi kampanye untuk menyerang dan menjatuhkan lawan politik,” ujar dia ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (27/2) dilansir Antara.

Arfianto mengatakan Amnesty Internasional Indonesia telah memprediksi, ujaran kebencian masih akan terjadi pada 2018-2019 di mana akan diselenggarakan pemilihan kepala daerah secara serentak di 171 daerah serta pemilihan legislatif dan pemilihan presiden-wakil presiden.

Ujaran kebencian yang terjadi di Indonesia, terjadi dalam bentuk isu, misalnya tuduhan adanya kebangkitan PKI serta ujaran kebencian berbasis sentimen agama.

Dia mengatakan ujaran kebencian dan tindak intoleransi pertama kali marak terjadi pada Pemilu Presiden 2014. Beberapa contohnya, iklan yang berjudul “rest in peace” Jokowi, yang mana dalam iklan tersebut Jokowi dikatakan telah meninggal dunia pada 4 Mei 2014 pukul 15.30 WIB.

Selain itu, adanya isu yang menyebutkan Prabowo Subianto memiliki gangguan kejiwaan atau psikopat.

Ujaran kebencian kemudian makin marak selama Pilkada DKI Jakarta pada 2017. Berawal dari kasus tuduhan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur petahana Basuki Tjahja Purnama (Ahok) yang mendorong meningkatnya ujaran kebencian, mengaitkan isu SARA selama pernyelenggaraan pilkada setempat.

“Akibat kejadian tersebut, menurut Economist Intelligence Unit, Indeks Demokrasi Indonesia pada 2017 merosot 20 peringkat dari posisi 48 ke posisi 68,” kata dia.

Untuk diketahui, baru-baru ini Bareskrim menangkap Kelompok Inti ‘Muslim Cyber Army’ atas kasus ujaran kebencian yang kerap melempar isu provokatif di media sosial seperti isu kebangkitan PKI, penculikan ulama, dan penyerangan terhadap nama baik presiden. 4 orang berhasil diamanankan.

Keempatnya adalah ML, RSD, RS dan YUS. Keempatnya ditangkap di waktu yang hampir bersamaan.

ML (40) ditangkap di kawasan Sunter Muara, Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Senin (26/2) sekitar pukul 06.00 WIB. Dari tangan ML, disita barang bukti berupa 3 ponsel berikut simcard, 2 buah flashdisk, 1 unit laptop, dan 2 kartu identitas.

Pukul 09.15 WIB tim juga menangkap RSD (35) di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. RSD diketahui adalah seorang PNS. Dari tangan RSD disita barang bukti berupa 1 buah laptop dan 1 buah flashdisk.

Siang harinya, sekitar pukul 12.20 WITA, tim kembali menangkap seorang tersangka berinisial RS di kawasan Jembrana, Bali. Tidak disebutkan barang bukti yang disita dari pria berusia 39 tahun itu. RS merupakan seorang karyawan Polytron.

Terakhir, YUS ditangkap di kawasan Bandung, Jawa Barat. Dari tangan pria tersebut disita barang bukti berupa 2 buah ponsel berbagai merek.

Sumber: Merahputih.com.

Komentar