Lika-liku Mengejar Pertumbuhan Ekonomi

Resmi diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (6/5/2019), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal (Q)-I 2019 tumbuh 5,07 persen secara tahunan (year on year/yoy) atau dibandingkan Q-1 2018. Namun, dibanding Q-IV 2018 kemarin, ekonomi nasional pada Q-1I tahun ini turun 0,52 persen. Tak pelak  proyeksi para ekonom hingga Bank Indonesia (BI), yang meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi Q-1 2019 mencapai 5,1-5,2 persen terpental jauh.

Akibatnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), tak mampu keluar dari zona merah, hingga ditutup turun hampir 1 persen ke level 6.256,35 pada Senin (6/5) (Investor Daily, 2019). Kemudian, nilai tukar rupiah pun semakin berdarah-darah. Tercatat kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI di mana Rupiah ‘terkunci’ di level 14.308 per dolar AS, turun 26 poin dari hari sebelumnya. Level tersebut merupakan yang terendah sejak 12 Maret tahun ini.

Dengan capaian pertumbuhan ekonomi Q-I yang berada dibawah ekspektasi, maka perjalanan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sesuai asumsi makro APBN 2019 sebesar 5,3 persen semakin berliku.

Melambatnya Beberapa Sektor

Jika kita lihat penyebabnya, ada beberapa sektor dalam beberapa tahun mengalami perlambatan. Misalnya, dari sektor pertanian yang sudah beberapa tahun ini terjun bebas. Jika dibandingkan data Q-1 2018 yang hanya mencapai 3.34 persen. Bahkan, dalam laporan BPS kemarin, sektor pertanian kini turun lebih miris dengan capaian hanya 1,81 persen (BPS, 2019). Penurunan ini khususnya disebabkan oleh penurunan tanaman pangan dan harga gabah. Berdasarkan catatan BPS, tanaman pangan mengalami kontraksi 5,94 persen. Harga ditingkat petani anjlok bahkan jauh lebih buruk dibandingkan Q-1 2018, dan nyatanya, instrumen harga Pokok Penjualan (HPP) (Inpres No.5 Tahun 2015) dimana harga Gabah Kering Giling GKG Rp4.650/kg dan GKP Rp4.070/kg tidak efektif mengendalikan harga di tingkat petani.

Selain itu, sektor industri pengolahan seperti batubara dan pengilangan migas, industri kulit, industri kayu, industri karet, barang galian bukan logam, elektronik, dan alat angkutan juga mengalami perlambatan.Pada Q-1 2019 sektor ini hanya membukukan sebesar 3.86 persen atau mengalami penurunan sebesar 0,74 persen dari Q-1 2018 lalu.

Sektor transportasi dan pergudangan juga harus terjun payung ke angka 5.25 persen atau turun sebesar 3.3 persen dibandingkan Q-1 2018. Transportasi udara diperkirakan menjadi penyebab perlambatan ekonomi sektor ini karena adanya penurunan jumlah penumpang angkutan udara yang cukup besar pada bulan Januari (-16,07 persen) dan Februari 2019 (-15,46 persen).

Tidak hanya itu, sektor konstruksi pun juga harus terseret turun menjadi 5.91 persen pada Q-1 2019 atau turun sebesar 1.44 persen dari Q-1 2018. Lebih dalam, produksi semen pada Q-I 2019 sebesar 29,2 juta ton atau turun 2,53 persen (yoy) dan penjualan sebesar 14,96 juta ton atau turun 4,81 persen (yoy). Artinya, belanja pemerintah untuk infrastruktur dinilai belum meluas ditambah dengan permintaan untuk sektor properti yang cenderung stagnan.

Tertahan dan Terhambat

Kendati konsumsi rumah menujukkan tren positif, dimana pada Q-1 2019 konsumsi rumah tangga menunjukkan angka 58.62 persen atau meningkat 1.88 persen dibandingkan Q-1 2018, sayangnya ekspor dan impor justru semakin melemah. Tercatat, secara tahunan, ekspor barang dan jasa Q-1 2019 menunjukkan angka sebesar -2,08 persen atau turun 7,04 persen dibandingkan Q-1 2018. Selanjutnya, impor juga mengalami penurunan dari Q-1 2018 sebesar 12,64 persen, tergerus -7,75 persen pada Q-1 2019. Penurunan impor terjadi pada barang-barang konsumsi maupun bahan baku penolong (kebutuhan untuk ekspor).

Lebih lanjut, mesin akselerator perumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu investasi juga mengalami kemandekan. Tercatat, investasi berupa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) turun 5,74 persen  dibandingkan Q-IV 2018. Sedangkan pertumbuhan Q1-2019 hanya mencapai 5,03 persen, melambat dari periode Q-1 2018 yang mencapai 7,94 persen. Pelemahan terutama terjadi untuk investasi kendaraan dan peralatan lainnya.

Perlu Kerja Keras

Untuk itu diperlukan kerja keras dari pemerintah untuk mengupayakan dan mendorong peningkatan skala ekonomi tanaman pangan yang menjadi rapor merah dalam laopran pertumbuhan ekonomi Indonesia Q-1 2019 kemarin.

Pemerintah melalui kementerian terkait juga penting untuk menurunkan tarif batas atas tiket pesawat agar sesuai dengan kemampuan konsumen “bawah” yang selama ini menjadi penolong untuk meningkatkan pertumbuhan sektor tranportasi. Selain itu, pemerintah melalui para pemangku kepentingan terkait juga perlu meningkatkan daya saing dan strategi bisnis agar mengikuti rantai nilai global (Global Value Chain) yang sedang berkembang.

Lebih jauh, sebagai negara berpendapatan menengah, penting juga bagi pemerintah untuk mendorong daya beli kelas menengah yang mencapai 70 persen dari populasi penduduk guna menggerakkan konsumsi maupun investasi.

Terakhir, perlu perubahan strategi ekspor di tengah perlambatan permintaan dunia, maupun ketidakpastian perekonomian global dan pengembangan ekonomi regional, khususnya di luar Pulau Jawa agar terjadi pemerataan. Inilah lika-liku dan strategi mengejar target pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan dan kesempatan yang ada. Jadi bagaimana, pemerintah?

Rifki Fadilah, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute, rifki@theindonesianinstitute.com

Komentar