Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto TII

Hanta Yuda: Partai Nasdem Sebuah Jalan Tengah, Strategi Politik Cerdik

Jakarta – Partai Nasional Demokrat (Nasdem) telah mendaftar di Kemenkum HAM untuk ikut kontestansi di Pemilu 2014. Partai Nasdem berkilah bukan perpanjangan tangan dari Surya Paloh yang menjadi ikon ormas Nasdem. Namun ditengarai, Partai Nasdem dibentuk sebagai sebuah jalan tengah.

“Saya lihat ini semacam jalan tengah, bentuk kompromi politik. Bagi kalangan yang ingin Nasdem sebagai partai silakan di Partai Nasdem, dan bagi yang ingin tidak masuk politik, masih ada ormasnya. Saya kira ini strategi politik yang cerdik,” ujar peneliti senior The Indonesian Institute, Hanta Yuda.

Berikut ini wawancara detikcom dengan alumnus UGM dan UI ini pada Selasa (26/4/2011):

Partai Nasdem menggunakan nama yang sama dengan ormas Nasdem. Menurut analisa Anda mengapa sengaja menggunakan nama yang sama, padahal mereka mengklaim partai ini bukan perpanjangan tangan Surya Paloh?

Memang ada penegasan dari ormas, bahwa Partai Nasdem ini tidak ada kaitan langsung dan bukan perpanjangan tangan dari ormas Nasdem. Tapi menurut saya, ini tidak terlepas dari strategi dan langkah politik dari ormas Nasdem. Dinamika ormas Nasdem ada tarik ulur, di mana ada berbagai macam keinginan, kepentingan dan pendapat. Ada kalangan yang ingin Nasdem tetap jadi ormas, sehingga bisa menaungi elite dari berbagai partai. Tapi banyak juga yang ingin Nasdem bermetamorfosis menjadi parpol.

Jadi di satu sisi tujuannya adalah mengakomodir kedua pihak bagi yang ingin Nasdem tetap sebagai ormas atau jadi parpol. Saya lihat ini semacam jalan tengah, bentuk kompromi politik. Bagi kalangan yang ingin Nasdem sebagai partai silakan di Partai Nasdem, dan bagi yang ingin tidak masuk politik, masih ada ormasnya. Saya kira ini strategi politik yang cerdik.

Mengapa cerdik?

Karena dengan ada partai dan ormas, maka politisi yang tergabung dalam ormas Nasdem masih tetap bisa ada di sana dan tidak perlu menjauh. Sedangkan yang ingin Nasdem jadi parpol juga disalurkan keinginannya.

Ini juga saya lihat Surya Paloh belum sepenuhnya yakin Nasdem akan menjadi partai besar. Sehingga adanya Partai Nasdem terlihat semacam test case. Kalau tidak bisa jadi parpol ya masih ada ormasnya. Dan Surya Paloh sendiri kalau ingin maju ke 2014 saya kira punya peluang lain. Seandainya Golkar mengadakan konvensi capres, dia bisa ikut bertarung di sana.

Meskipun dikatakan partai ini bukan perpanjangan tangan dari ormas Nasdem namun dilihat dari infrastruktur dan jaringan, sulit untuk tidak mengatakan bahwa partai ini ya dari ormas Nasdem. Nasdem kini punya dua wajah karena merupakan bentuk kompromi, strategi dan test case.

Peluang partai ini bagaimana?

Ini merupakan fenomena partai baru yang merupakan amoebaisasi. Jadi kalau amoeba itu kan terpotong lalu hidup lagi. Dan ini saya lihat sebagai amoebaisasi Golkar.

Sebelumnya, amoebaisasi Golkar telah terjadi dengan terbentuknya Gerindra dan Hanura, lalu sekarang memunculkan Nasdem. Dalam era multipartai ini berat bagi partai politik, terutama yang baru. Sebab ada angka parliamentary threshold (PT) untuk masuk ke parlemen.

Secara umum, ada 4 hal bisa membuat parpol survive atau tidak. Pertama, sejauh mana partai baru terutama Nasdem melakukan konsolidasi internal nuntuk antisipasi potensi hengkang atau keluarnya pengurus dan kader.

Menjelang 2014 ini mau tidak mau bertarung dalam konstelasi politik. Hal ini tergantung kemampuan Nasdem melakukan konsolidasi internal dalam partai. Kemampuan elite Nasdem untuk menyatukan kelompok dan kepentingan di internal Nasdem menjadi ujian terdekat, sukses atau tidak.

Kedua, ini konsolidasi organisasi atau institusi dalam rangka menjadikan partai modern dan demokratis. Jadi jangan ada ketergantungan pada sesosok figur dan sejauh mana menerapkan prinsip merit system di rekrutmen.

Ketiga, sejauh mana melakukan konsolidasi ideologi dalam transformasi gagasan ‘restorasi Indonesia’ jadi gagasan partai. Karena belum punya basis massa, maka harus diintensifkan konsolidasi ideologinya agar platform mutlak diterima oleh masyarakat.

Keempat, konsolidasi elektroral, di mana kemampuan Nasdem melakukan konsolidasi elektoral di pemilu untuk memenuhi PT di pemilu legislatif. Ini perlu strategi jitu, apalagi ada Golkar. Hingga 2014, masih ada 3 tahun untuk memproyeksi prospek Nasdem.

Prospek Nasdem ke depan menyangkut sumber daya, infrastruktur, jaringan, sumber daya manusia dan finansial. Sebagai partai baru, Partai Nasdem sudah punya modal, memiliki prospek, tetapi apakah mampu mengelola 4 hal itu. Kalau berbicara tokoh, sepertinya Nasdem punya banyak tokoh. Dari sejarah kelahirannya, ormas Nasdem didukung tokoh besar yang independen seperti Buya Syafii Ma’arif dan Anies Baswedan.

Nasdem berpotensi jadi kekuatan baru yang bisa diperhitungkan?

Kalau Nasdem mau fokus, mereka bisa jadi alternatif kekuatan politik. Bagus kalau mereka mengusung politik gagasan, dan menjadi parpol yang tidak terjebak penyakit yang sekarang sedang cenderung menguat yakni money politics, politik figur dan politik dinasti atau keluarga.

Dengan politik ideologi yang mereka usung, misalnya konsisten dengan gagasan segar ‘restorasi Indonesia’ bisa menjadi jalan pemersatu tokoh di dalamnya. Politik gagasan bisa menjadi seksi di tengah politik uang dan patron. Nasdem juga bisa kuat jika tidak mengulang kesalahan partai sebelumnya.

Saya kira gagasan kerja terkait bagaimana Indonesia ke depan dan upaya menyejahterakan Indonesia bisa dikedepankan. Gagasan tentang melunasi janji konstitusi bisa dikedepankan.

Mengapa fenomena amoebaisasi dekat dengan Golkar?

Amoebaisasi memang sejak dulu terjadi dan menjadi tantangan bagi Golkar. Dulu Edi Sudrajat pernah membentuk Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Lalu pada 2009 munculnya Gerindra dan Hanura sedikit banyak menggerus suara Golkar. Kemudian ada Nasdem ini menjelang 2014.

Saya kira ini muncul karena kegagalan Golkar mengelola faksionalisasi yang ada sehingga berakhir dengan pendirian partai baru. Dan ini hampir selalu bermula dari suksesi partai.

Munculnya Partai Nasional Republik (Nasrep, partai Tommy Soeharto-red), saya kira juga ini ada kaitan dengan Golkar, dan ini merupakan bagian dari amoebaisasi.

Golkar ini kan partai yang paling kokoh institusionalisasi atau kelembagaannya karena mewarisi infrastruktur politik era Orde Baru. Golkar memiliki derajat kesisteman yang kuat, derajat otonomi yang baik, dan juga derajat citra publik yang cukup baik.

Tetapi ada problem internal yang menyebabkan semakin turunnya suara Golkar, ada hal yang mendorong lahirnya partai baru yang merupkan bagian dari amoebaisasi. Menurut saya, ada 3 hal yang menyebabkan amoebaisasi di Golkar.

Pertama, Golkar gagal memelihara faksionalisasi internal partai. Faksinya kuat, namun ini harus dilembagakan. Tidak berhasilnya faksi-faksi yang ada dilembagakan, maka menimbulkan kekecewaan sehingga membentuk partai baru.

Kedua, ini merupakan dampak dari kegagalan Golkar melakukan kaderisasi sehingga lahir pragmatisasi. Karena itu ada politisinya yang loncat pagar ke partai lain karena tidak ada ikatan ideologi.

Ketiga, Golkar juga kurang berhasil menerapkan rekrutmen yang berkualitas, karena masih oligarkis. Ini harus diantisipasi oleh Golkar. Secara elektoral, ini berdampak pada kekuatan elektoral Golkar, dan di sisi lain menimbulkan perpecahan.

Bagaimana meminimkan amoebaisasi yang pada akhirnya merugikan partai itu sendiri?

Sebenarnya, faksi itu wajar dalam partai karena itu fenomena partai. Untuk melembagakan faksionalisme bisa menerapkan konvensi untuk capres. Seandainya melakukan kebijakan ini, maka setidaknya elite tokoh besar yang ingin maju capres dikurangi potensinya untuk membentuk partai. Pertanyaannya, apakah Golkar bersedia?

Konvensi yang dilakukan itu hendaknya tidak seperti di 2004. Konvensi ini harus dibuat secara terbuka, demokratis dan transparan. Kalau perlu didahului pemilu pendahuluan, semacam primary election seperti yang dilakukan di negara lainnya.

Hal ini penting untuk mengurangi politik uang dan memutus oligarki. Memang butuh biaya, tapi bisa diantisipasi dengan metodologi sampling survei. Ini tidak hanya menguntungkan konstituen tetapi juga menyehatkan Golkar.

Mengapa?

Pertama, konvensi yang didahului pemilu pendahuluan seperti di beberapa negara ini berpotensi mendongkrak citra partai yang demokratis dan aspiratif. Ini menjadi program pencitraan karena menyedot perhatian publik. Ini sekaligus menjadi pesta konstituen Golkar.

Kedua, menggairahkan infrastruktur partai, menggerakkan seluruh pengurus dan kader turun ke daerah dan bertarung secara sehat.

Ketiga, meningkatkan soliditas internal partai. Jadi ketimbang tidak dilembagakan, mendingan faksi jadi terlembaga seperti ini. Namun ini perlu dibuka secara terbuka, demokratis.

Selain Nasdem, Nasrep, ke depan Anda melihat akan banyak bermunculan partai baru?

Pasti, karena motif bikin partai macam-macam. Ada yang motifnya sebagai alat perjuangan untuk mencapai cita-cita bagi kepentingan bersama di partai. Tapi ada juga motif lain yang lebih kentara, seperti misalnya jadi sekoci untuk maju ke pemilu eksekutif. Selain itu juga motif untuk meraup keuntungan finansial ketika bermain di pilkada.

Di era reformasi, tidak menyisakan satu pun ruang di luar parpol dalam seleksi dan penjaringan presiden, legislatif, maupun kepala daerah. Ini wajar, karena parpol memang sebagai instrumen. Namun ketika berjalan tertutup dan transaksional maka bisa menjadi permainan parpol.

Sudah beratus tahun, parpol dibuat dengan berbagai motif. Nah tugas kita adalah membuat sistem untuk mengurangi motivasi yang mementingkan pribadi dan kelompok.  Dengan proses pembuatan pendirian partai yang ketat tapi jangan sampai mengekang hak pembuatan parpol, ini bisa jadi instrumen. Partai banyak, boleh saja, tetapi yang di parlemen tidak perlu banyak-banyak.

Kalau punya massa kuat, silakan membuat partai. Kalau menurut saya, ada baiknya semua partai peserta pemilu membuat deposit ke negara. Sebab pemilu itu kan pakai biaya negara. Karena ada deposit dana ini, orang-orang tidak akan sembarangan bikin partai. Karena kalau cuma sekadar bikin partai kan tidak baik.

Sedangkan di tingkat parlemen, saya setuju dengan adanya PT. Karena ini terkait dengan kapabilitas, sehingga menghasilkan pemerintah yang efektif.

Kita mengkritisi partai bukan dalam rangka ingin membangun kebencian pada partai atau deparpolisasi, tapi ini cara kita untuk menyelamatkan demokrasi kita. Partai sehat akan melahirkan demokrasi sehat juga. Kalau tidak, maka demokrasi akan jalan di tempat.

PR parpol yang ada, partai harus segera melakukan ideologisasi dan kaderisasi yang melembaga di partai masing-masing. Yang harus digerakkan adalah politik ide, bukan uang atau figur. Dengan begitu, fenomena politisi lompat pagar bisa dikurangi.

Partai juga harus berpikir untuk melembagakan faksionalisme, melembagakan kaderisasi dan penjaringan yang demokratis, serta semua partai memiliki kesadaran demokratisasi internal sehingga bisa memperbaiki sistem dan mendukung demokrasi yang lebih luas agar sehat.

Sumber: Detiknews.

Komentar