Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Bangkitnya Politik Kelas Menengah

Arus politik memang selalu berjalan dinamis. Adanya riak-riak politik di tanah air akhir-akhir ini anggaplah sebagai jalan menuju kematangan demokrasi. Dari berbagai peristiwa politik belum lama ini, peran politik kelas menengah di Indonesia yang sebelumnya terbaca semu, kini keterlibatannya kian nyata.

Jadi, terlihat fenemona generasi baru kelas menengah yang sedang membangkitkan perannya dalam pertanyaan filosofis yang luas maupun pemecahan-pemecahan langsung terhadap persoalan politik, walau seraya masih bertanya, mengapa dan untuk apa?

Dalam pengamatan, bagi warga kelas menengah, ketika melihat adanya gerakan politik yang licik, kebijakan yang tidak baik, muncul kesadaran politik mereka untuk terjun berpartisipasi membela politik yang baik. Orang-orang jahat tak akan menang jika orang-orang baik masih ada di dalamnya, bukan begitu? Dalam kenyataannya, basis sosial Negara seperti Indonesia ini ditunjang kelas menengah yang independen dan memiliki tradisi masyarakat madani (civil society) yang mengakar.

Dari perspektif politik, suara kelas menengah yang tidak berpartai acapkali terbukti mempengaruhi kebijakanpolitik di negeri ini. Mereka bersatu padu membela apa dan siapa yang mereka anggap benar. Namun, pengertian kelas menengah di Indonesia masih bisa diperdebatkan. Mesti jelas dan dibuktikan seperti apa mereka yang disebut kelas menengah itu. Sampai mana mereka merasa terlibat dalam kebijakan politik, berjuang untuk mereka yang miskin, termiskin, yang terbelakang, dan yang terlupakan.

Dalam politik, air yang bening bisa berubah menjadi keruh, begitu pula sebaliknya. Ekspresi politik terkadang justru terjebak oleh struktur primordial dan feodal. Lainnya adalah afiliasi dan loyalitas politik yang sengaja memupuk ketegangan antargolongan adalah praktik-praktik politik yang picik. Menurut Wiratmo Soekito (1982:36), politik mengandung pengertian yang ambivalensi. Di satu pihak politik itu dihayati oleh semua manusia, di lain pihak selain dihayati oleh manusia politik juga kerap membinasakan nilai-nilai. Jadi, tinggal kita memilih, apakah kita menerima politik dalam arti yang sehat ataukah tidak sehat.

Politik yang sehat berarti politik yang menjadi jembatan untuk menciptakan peradaban mulia, bukan malah membinasakan norma dan nilai-nilai kebudayaan sehingga kuman ketakberadaban masuk ke dalam semua institusi politik dan publik. Di samping itu, politik yang membangun karakter tak lepas dari pendidikan politik. Kita merindukan partai politik yang memiliki semangat kebaikan publik. Tatkala kehidupan politik mengalami sengkarut, kekuatan apa yang akan menopangnya sehingga geliat politik Tanah Air punya harapan sebagai kehendak bersama untuk kemajuan?

Soedjatmoko (2010:21) pernah mengatakan, selama ini perasaan syak wasangka, curiga, dan ketakutan irasional itu selalu mendasari perpecahan politik yang tengah berlangsung lama di Indonesia. Jadi, apabila sebagai kaum terdidik yang mempunyai keyakinan politik masih diselimuti perasaan-perasaan ketakutan irasional, betapapun sempurna pengetahuan dan hebat keahlian, kuranglah berguna semua itu.

Kalangan terdidik tak boleh takut berpolitik. Begitu pula para pendidik, jangan melulu mengajarkan rasa ”jijik” terhadap politik kepada anak didik. Mengajarkan dan melaksanakan kebajikan politik adalah kekuatan kita untuk menciptakan Negara ini menjadi lebih baik sehingga keberadaban masuk ke dalam semua institusi politik dan institusi publik.

Kembali ke soal kelas menengah, Mochtar Lubis (1922-2004) pernah mengupas persoalan kelas menengah ini. Menurutnya, kelas menengah dalam suatu masyarakat tidaklah merupakan jaminan bahwa kelak pada suatu waktu kelas menengah itu akan menuntut dan mendesak agar di lakukan pemerataan kemakmuran yang adil, solidaritas sosial, pelestarian hutan-hutan dan margasatwa, menjaga lingkungan hidup agar jangan binasa dan tercemar, demokrasi yang berkualitas, dan hak-hak asasi manusia supaya dihormati secara mantap.

Akhirnya, demokrasi tak ubahnya lampu kendaraan bermotor, sedangkan keterbukaan adalah kabut. Kabut tebal tak akan dapat ditembus apabila kekuatan lampu lemah. Persoalannya, bagaimana memperkuat daya sorot lampu demokrasi hingga keterbukaan setebal apapun dapat ditembus. Harapannya, suara-suara kebenaran kelas menengah bersama rakyat semesta Indonesia yang dapat menembusnya.

David Krisna Alka, Research Associate di The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research. davidkrisna@gmail.com

Komentar