Foto Geotimes.

Akhir Mei, Akhir Asap Rokok?.

31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Apa makna dari peringatan ini? Akan kah hanya sekedar

Umi Lutfiah – Peneliti Sosial, The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research.

perayaan tanpa dampak yang berarti? Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menduduki peringkat tiga di dunia dalam hal jumlah perokok terbanyak (depkes.goid, 31/5).

Tingginya perokok aktif di negara kita bukan berarti menunjukkan bahwa mayoritas perokok tidak paham mengenai dampak kesehatan yang akan mereka terima. Berbagai intervensi kesehatan terkait dampak bahaya merokok sudah gencar di lakukan oleh pemerintah. Bahkan beberapa waktu lalu sudah dimulai peraturan bungkus rokok dengan gambar yang menyeramkan. Tujuannya tentu ingin menyadarkan masyarakat tentang bahaya merokok. Menurun kah jumlah perokok di Indonesia?

Berbagai intervensi tersebut nyatanya tidak berhasil menjegal laju angka perokok di Indonesia. Teori Perubahan Perilaku menyatakan bahwa ada tiga dimensi dalam proses perubahan perilaku, yaitu dimensi pengetahuan, sikap, dan perilaku. Seseorang yang mengerti tentang bahaya merokok belum tentu memiliki sikap dan perilaku yang positif terhadap pengetahuan yang dia terima. Banyak faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang, dalam hal ini perilaku merokok.

Hasil Global Youth Tobacco Survey 2009-2014 dan Badan Litbangkes Kemenkes RI menyatakan bahwa faktor iklan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi perilaku memulai merokok. Pengaruh yang diberikan sebesar 46.3 persen. Belum lagi ketika kita berbicara mengenai maraknya berbagai acara yang disponsori oleh perusahaan rokok, misalnya acara olahraga.

Konsep iklan rokok yang dibalut dengan penampilan ‘maco’, sehat, bugar, wangi, dan keren membuat remaja berpikir bahwa merokok merupakan hal yang berkelas. Jika mereka tidak merokok maka tidak akan terlihat keren. Seperti kita ketahui remaja merupakan fase paling ‘labil’ dengan rasa ingin tahu yang tinggi tanpa didasari pengetahuan dan kesiapan mempertanggungjawabkan perilaku mereka.

Belum lagi jika kita berbicara mengenai pengaruh lingkungan atau teman sebaya. Tidak dapat dipungkiri bahwa remaja akan selalu memilih bergabung dan mendengar teman sebayanya daripada dengan orang tua mereka. remaja akan lebih nyaman berada di lingkungan sebaya. Jika teman sebaya mereka merokok, maka akan ada desakan bagi remaja untuk merokok. Alasan ingin terlihat sama seperti teman sebayanya pun banyak ditemui. Alasan lain adalah karena rasa ingin tahu yang tinggi (SDKI, 2012).

Jika kita melihat data jumlah perokok pemula, kita akan melihat adanya peningkatan. Tahun 2017 saja di Indonesia ada 36.3 persen remaja usia 15 tahun yang sudah merokok. Padahal tahun 1995 jumlah remaja usia 15 tahun yang merokok sekitar 27 persen (depkes.go.id, 31/5). Gagal kah pemerintah kita menangani kasus rokok?

Pemerintah bukan tidak berusaha. Pemerintah melalui PP Nomor 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan telah berupaya mengendalikan dan mengurangi perokok pemula terutama dalam hal iklan rokok. Ingat bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah membutuhkan dukungan dari seluruh lapisan masyarakat untuk memerangi rokok.

Salah satu komponen masyarakat terkecil yang mampu membantu pemerintah adalah keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil masyarakat dan media pembelajaran pertama anak wajib mengajarkan hal yang benar kepada seluruh anggota keluarga. Bisa kita lihat jika ayahnya saja merokok, apakah mungkin anaknya tidak merokok? Mayoritas akan merokok karena melihat ayah sebagai sosok panutan dalam sebuah keluarga.

Hal yang bisa dilakukan pada lingkup keluarga adalah mulai hidup sehat dengan tidak merokok. Budayakan kehidupan sehat dalam keluarga. Tanamkan pemahaman yang kuat terkait bahaya merokok dan berbagai macam kerugian jangka panjang akibat merokok. Ayah sebagai kepala keluarga harus mampu mengesampingkan nafsu merokoknya untuk kebaikan seluruh anggota keluarga.

Jangan lupa bahwa bahaya merokok juga didapat para perokok pasif. Para ayah yang terus merokok sama halnya dengan membunuh anggota keluarganya secara perlahan. Lebih baik gunakan porsi konsumsi merokok untuk membeli lauk bagi seluruh anggota keluarga. Sebagai informasi, konsumsi rokok rumah tangga kita nomer dua setelah konsumsi padi-padian. Konsumsi ini mengalahkan konsumsi lauk untuk rumah tangga.

Artinya, rumah tangga kita lebih mementingkan konsumsi rokok daripada konsumsi protein untuk gizi keluarga. Silahkan memilih, membunuh anggota keluarga secara perlahan tapi pasti atau penuhi gizi anak istri?

Sumber: Geotimes.

Komentar