Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Waspada Bubble Startup Digital

Pertengahan November lalu, saya diminta untuk memberikan insight dalam sebuah konferensi nasional di salah satu kampus negeri tersohor di Indonesia, mengenai kondisi Startup di Indonesia. Sebagai Peneliti ekonomi yang lebih tertarik untuk membicarakan hal-hal yang berbau makro dan konservatif, acara tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi saya untuk mulai mencermati bagaimana perubahan tatanan struktur perekonomian dunia khususnya Indonesia pasca bergulirnya jargon Revolusi Industri 4.0 dan perubahan struktur ekonomi menuju era ekonomi digital.

Di Indonesia, tercatat pada tahun 2016, jumlah pengguna internet yang mencapai 83 juta pengguna, serta jumlah pengguna belanja online yang mencapai 5.9 juta pengguna (Katadata.co.id, 2018). Fenomena di atas merupakan prakondisi yang pada akhirnya memunculkan lahirnya banyak perusahaan pemula atau perusahaan rintisan yang terus berkembang atau yang kita kenal dengan istilah Startup Digital.

Lebih lanjut, berdasarkan data yang saya himpun dari Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia (MIKTI), tercatat jumlah startup digital di Indonesia pada 2018 mencapai 992 perusahaan rintisan. Banyaknya kemunculan startup digital pun membawa angin segar khususnya bagi perekonomian Indonesia. Baik Badan Pusat Statistik (BPS), CIPS dan Indef sepakat mengatakan bahwa kontribusi sektor ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2017 dari sektor e-commerce diestimasikan mencapai sebesar 7.1 milyar USD atau sebesar 97 triliun Rupiah.

Waspada!

Waspada adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang seolah memberikan angin segar bagi kita. Sebagai perusahaan pemula, startup masih banyak mengalami banyak tantangan. Salah satu tantangan yang masih jarang diperbincangkan publik adalah terkait dengan kemunculan fenomena bubble startup, yang sebetulnya dapat mengancam startup digital di Indonesia. Apabila fenomena ini tidak disertai dengan perlindungan dari pemerintah, serta kualitas strategi keseluruhan dan inovasi perusahaan untuk dapat menarik pasar serta para investor (Ayrer, Upper & Warner. 2002).

Per definisi, fenomena bubble startup pada dasarnya mirip dengan bubble economics. Sebagaimana diketahui, fenomena bubble economics merupakan suatu gelembung spekulatif yang didorong oleh munculnya inovasi keuangan, sehingga investor banyak melakukan pembelian untuk asset ekonomi yang sedang booming (Guttmann. 2009). Dalam kasus yang serupa, investasi cenderung diberikan kepada bisnis yang memiliki pertumbuhan yang sangat cepat seperti startup digital di Indonesia. Tercatat pertumbuhan investasi startup digital di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 44 juta U.S Dollar, yang pada tahun 2017 mengalami peningkatan yang cukup besar, yaitu sebesar 3 miliar U.S Dollar (Dailysocial, 2017)

Hal yang perlu diperhatikan, saat ini potensi tejadinya bubble dalam bisnis startup digital di Indonesia sudah mulai terlihat dari adanya penurunan pertumbuhan penjualan dari sektor e-commerce.  Di sisi lain, terjadi peningkatan jumlah pengguna internet dan digital buyers yang merupakan konsumen dari startup digital tersebut.

Berdasarkan data Statista (2017) dari tahun 2012 hingga 2018 kemarin, pertumbuhan penjualan e-commerce di Indonesia cenderung mengalami tren penurunan dengan besaran 10-25 persen per tahun. Secara agregrat, penurunan yang cukup tajam, penurunan terjadi pada tahun 2013 menuju tahun 2014 (dari 71 persen hingga 45 persen) yang merosot sebesar 26 persen.

Buntut panjangnya, apabila startup yang diberikan investasi tersebut tidak berhasil memperoleh laba yang diharapkan investor akibat merosotnya profit dari pertumbuhan penjualan e-commerce di Indonesia, maka investor akan berbondong-bondong menarik investasinya (burst) dan menanamkan pada bidang usaha lain yang sedang menjadi tren. Selain itu, investasi asing tadi malah berpindah ke negara yang lain, alhasil akan terjadi capital outflow yang akan mengguncang kestabilan nilai tukar negara tersebut (Kindleberger. 2011).

Fakta di atas juga nyatanya didukung dengan fakta jumlah startup digital yang mengakhiri bisnisnya pada tahun 2015 sebanyak 13 startup. Jmlah yang paling banyak dari fenomena tutupnya startup terjadi pada tahun 2016, dimana terdapat 20 startup digital yang menutup layanannya (Tech in Asia & DailySocial, 2016). Penutupan startup digital tersebut kebanyakan terjadi karena kurangnya modal yang mereka terima, serta tidak dapat menentukan bagaimana arah bisnis yang mereka jalankan kedepannya demi meraih keuntungan yang besar.

Tingginya euphoria untuk mendirikan startup, semakin besar menjadikan banyaknya kemiripan produk yang ditawarkan antara satu dengan lainnya. Startup digital yang baru muncul dan hanya mengikuti startup lain yang sudah lebih unggul, tidak dapat menentukan bagaimana arah bisnis yang mereka jalankan kedepannya, serta bertahan di tengah ketatnya persaingan ide dan inovasi yang pada akhirnya harus tumbang.

Jika kondisi ini terus-terusan dibiarkan, maka bukan tidak mungkin para investor yang mulanya memiliki kepercayaan terhadap bisnis startup di Indonesia, menjadi pudar dan mencabut investasinya dari Indonesia menuju negara lain yang lebih menguntungkan.

Oleh karena itu, untuk mengatasi persoalan di atas diperlukan adanya skema kerja sama yang cukup masif baik para pelaku startup sendiri, maupun pemerintah sebagai penyedia ekosistem bisnis di Indonesia. Pihak startup digital di Indonesia perlu terus mengembangkan ide dan inovasi yang dimiliki untuk dapat ikut serta membangun iklim bisnis yang kuat di Indonesia, sehingga mampu bersaing dengan startup digital yang berasal dari negara lain. Dengan demikian, para investor asing semakin berminat untuk dapat menanamkan modalnya di Indonesia.

Sementara, pemerintah harus memberikan kemudahan bagi startup digital di Indonesia dalam memperoleh legalitas usaha yang resmi. Selain itu, peraturan mengenai hak paten bagi ide-ide yang dikeluarkan oleh startup digital di Indonesia perlu ditekankan dan diberikan kemudahan bagi innovator untuk dapat mendaftarkan patennya terkait ide yang telah dibuat dan dikembangkan. Dengan begitu, startup digital di Indonesia akan mendapatkan insentif dari inovasi dan kreativitasnya, serta makin berkembang.

Rifki Fadilah, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute rifki@theindonesianinstitute.com

Komentar