Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Pilih Yang Muda Atau Yang Tua

arfiantoEnam bulan menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden pada 9 Juli 2014. Nuansa persaingan kandidat calon presiden semakin mengemuka. Di tahun 2013 kita telah disuguhkan dengan hasil survei yang menunjukkan tingginya popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

Fenomena melonjaknya tingkat popularitas Jokowi di tengah persaingannya dengan nama-nama capres “tua”, atau pemain lama, seperti Aburizal Bakrie, Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla,  membuka mata kita bahwa saat ini masyarakat membutuhkan sosok pemimpin yang lebih muda dan segar.

Hasil Survei Institut Riset Indonesia (INSIS) (12/1) menyebutkan bakal calon presiden dari kalangan muda merupakan daya tarik bagi masyarakat untuk  meningkatkan partisipasi politiknya di Pemilu 2014. Dalam survei ini ditunjukkan jika capres di bawah 55 tahun maju, maka tingkat partisipasi pemilih akan sebesar 81,86 persen. Namun, jika capres di atas 55 tahun yang maju, maka tingkat partisipasi pemilih menjadi 63,36 persen.

Hasil survei ini juga mengungkapkan bahwa sangat penting adanya regenerasi kepemimpinan, dimana 93,44 persen responden menilai pentingnya regenerasi kepemimpinan. Sementara, yang mengatakan tidak penting dan sangat tidak penting 2,71 persen, dan menjawab tidak tahu hanya 3,82 persen.

Selain itu, wacana pemimpin alternatif juga mengemuka dalam hasil survei ini. Tercatat 71,02 persen responden manyatakan perlu dan sangat perlu. Sementara yang menyatakan tidak perlu 10,74 persen, dan tidak tahu 18,22 persen.

Hasil survei INSIS sejalan dengan hasil survei sebelumnya yang dilakukan oleh Pol-Tracking Institute. Hasil survei Pol-Tracking Institute (22/12/2013) menyatakan sebagian besar masyarakat Indonesia yang memiliki hak pilih lebih menyukai capres yang berusia muda ketimbang capres yang berusia tua. Capres muda cenderung lebih disukai sebesar 36 persen, sedangkan capres tua yang mendapatkan perolehan sebesar 17 persen.

Hasil survei Pol-Tracking Institute juga mengungkapkan, perilaku pemilih sangat ditentukan oleh figur kandidat capres. Sebanyak 40 persen responden Pemilih menyatakan sangat berminat memberikan suaranya dalam pemilu presiden. Sedangkan 44 persen responden menyatakan cukup berminat.

Berdasarkan kedua hasil survei tersebut, dapat dikatakatan bahwa masyarakat akan cenderung memberikan penilaian kritis terhadap latar belakang usia dari kandidat calon presiden. Kecenderungan hasil survei yang menyatakan bahwa masyarakat memilih capres muda adalah pilihan yang rasional.

Dalam hal ini, pilihan rasional melihat kegiatan perilaku memilih sebagai produk kalkulasi antara untung dan rugi untuk menetapkan pilihan atas alternatif-alternatif yang ada kepada pilihan yang terbaik dan yang paling menguntungkan, baik untuk kepentingan sendiri (self interest) maupun untuk kepentingan umum (Ramlan Surbakti dan Dennis Kavanaagh, 1992).

Jika melihat kondisi hari ini, maka pilihan rasional masyarakat yakni lebih mengharapkan capres muda dibandingkan capres tua. Hal ini dikarenakan capres tua yang muncul, merupakan tokoh yang telah pernah menduduki kursi dalam pemerintahan sebelumnya.

Padahal penilaian masyarakat  terhadap kinerja pemerintahan sebelumnya mengalami penurunan. Misalnya dalam hal pemerataan kesejahteraan, penegakan hukum, dan perlindungan terhadap keberagaman. Hal ini berimbas pada penurunan kepercayaan terhadap tokoh tua.

Dengan demikian, preferensi masyarakat terhadap kandidat capres yang muda menjadi alternatif, apalagi jika tokoh tersebut bukan bagian dari pemerintahan sebelumnya.  Selain itu, capres muda dipandang memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda dengan tokoh tua. Kriteria pemimpin yang sederhana dan merakyat cenderung dianggap sebagai gaya baru pemimpin. Hal inilah yang menjadi sesuatu yang segar di mata masyarakat pada saat ini.

Oleh karena itu, pilihan pada capres muda merupakan refleksi dari penilaian masyarakat akan cenderung lebih positif sejalan dengan harapan regenerasi kepemimpinan bangsa yang akan membawa Indonesia lebih baik ke depannya, semoga.

Arfianto Purbolaksono – Peneliti Yunior Bidang Politik The Indonesian Institute

Komentar