Pertolongan untuk Perokok Remaja

Bulan Oktober diperingati sebagai Bulan Kesehatan Paru. Peringatan ini harusnya mampu membuat perubahan terhadap prevalensi perokok di Indonesia, khususnya perokok remaja. Data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) tahun 2014 yang diluncurkan oleh World Health Organization bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan menginformasikan bahwa satu dari lima remaja adalah perokok aktif. Faktanya, mayoritas dari mereka mulai merokok pertama kali saat usia 12-13 tahun. Bahkan, lebih dari 50 persen penduduk usia 15-19 tahun adalah perokok aktif. Angka ini merupakan angka tertinggi jika dibandingkan kelompok usia lainnya (Riset Kesehatan Dasar, 2013).

Menurunkan prevalensi perokok remaja tidak hanya soal isu kesehatan saja, lebih dari itu ada isu sosial dan isu ekonomi sebagai penyertanya. Mereka yang mulai merokok pada usia dini akan menyebabkan tingkat adiksi yang semakin tinggi seiring dengan pertambahan usia. Akibatnya, kebutuhan uang saku jelas akan meningkat.

Kebutuhan yang meningkat tanpa diimbangi pemenuhan uang saku akan menjadikan remaja retan melakukan aksi kriminal, misal dengan memeras teman sebayanya atau bahkan mencuri. Beberapa contoh kasus kriminal yang dilakukan remaja karena ingin membeli rokok antara lain: kasus remaja mencuri pisang di Probolinggo tahun 2014 (www.regional.kompas.com, 13/9), tiga pemuda mencuri burung di Tangerang Selatan September 2017 (www.news.detik.com, 13/9), dan awal tahun 2018 dua orang pelajar mencuri velg kendaraan di Sukabumi (www.jabar.pojoksatu.id, 13/9).

Selain itu, efek jangka panjang perokok akan mengarah ke penyakit tidak menular, salah satunya penyakit katastropik. Tercatat sepanjang tahun 2017, BPJS Kesehatan mengeluarkan Rp 18.4 triliun atau sekitar 21.8 persen dari biaya kesehatan untuk penyakit katastropik (mediaindonesia.com, 13/9). Kondisi ini jelas akan membebani pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

 

Mudahnya Akses Rokok bagi Remaja

Laporan GYTS tahun 2014 kembali menginformasikan bahwa 58.2 persen remaja mendapatkan rokok dengan membeli di toko/warung (Grafik 1). Rata-rata dari mereka merokok kurang dari 1 batang per hari sampai 1 batang per hari.

Fakta lain yang dapat dijadikan dasar untuk membuat kebijakan terkait rokok adalah bahwa 74.3 persen remaja membeli rokok per batang. Hal ini dikarenakan jumlah uang yang mereka miliki terbatas sehingga hanya mampu membeli secara batangan di warung/toko, atau bahkan mendapatkannya dari orang lain.

 

Tabel 1. Akses Remaja terhadap Rokok di Indonesia Tahun 2014

Sumber: Global Youth Tobacco Survey, 2014.

 

Pemerintah harus terus mendorong regulasi yang membatasi pembelian rokok dalam bentuk eceran. Peraturan legal terkait kebijakan ini harus segera direalisasikan. Pendekatan sosialisasi kebijakan ini juga harus melibatkan level terbawah dari masyarakat. Hal ini agar memudahkan fungsi pengawasan terutama pengawasan warung-warung yang umumnya menjual rokok secara eceran.

 

Perlunya Panutan

Remaja merupakan fase peralihan dari masa anak-anak menuju dewasa. Masa peralihan ini membutuhkan bimbingan dan panutan dari lingkungan sekitarnya, terutama keluarga.

Fungsi panutan terutama terkait dengan perilaku merokok sulit didapatkan oleh remaja. Fakta menunjukkan 57.3 persen remaja justru terpapar rokok di rumah dan sebanyak 69 persen remaja melihat seseorang merokok di dalam bangunan sekolah. Remaja perokok yang memiliki orang tua/anggota keluarga perokok mengindikasikan bahwa orang tua/anggota keluarga sebagai agen imitasi (Komasari, et al., 2000). Agen imitasi merupakan sosok yang ditiru/diikuti oleh anak-anak atau anggota keluarga yang lebih muda.

Baik orang tua maupun pihak sekolah harus membuat peraturan untuk diri sendiri bahwa mereka harus menjadi panutan yang baik bagi generasi muda. Orang tua perokok pun tidak akan menginginkan anaknya untuk menjadi pecandu rokok. Oleh karena itu, harus diterapkan peraturan domestik untuk di rumah dan di sekolah.

Aturan ini setidaknya dapat berupa tidak merokok ketika berada di dalam rumah dan sedang berinteraksi dengan orang lain (terlebih remaja). Selain itu, guru sebagai panutan di sekolah hendaknya juga berperilaku sama, meredam untuk tidak merokok di lingkungan sekolah. Jika anak didiknya saja tidak boleh merokok di lingkungan sekolah, mengapa para guru justru leluasa untuk merokok?

 

Memaksimalkan Layanan Konseling

Selama ini, siswa yang berurusan dengan Guru Bimbingan Konseling sangat identik dengan siswa yang bermasalah. Siswa yang merokok selalu mendapat label ‘siswa nakal’ dan langsung mendapatkan skors (nilai sanksi). Namun, pihak sekolah seakan lupa bahwa salah satu yang menjadi tugas mereka adalah bagaimana membantu mereka untuk keluar dari belenggu rokok.

Data dari GYTS menunjukkan bahwa sebanyak 88.2 persen remaja usia 13-15 tahun yang merokok sebenarnya memiliki keinginan untuk berhenti merokok. Namun, niat untuk berhenti merokok ini tidak mendapatkan bantuan maksimal dari lingkungan disekitarnya. Hanya 24 persen remaja yang ingin berhenti merokok berhasil mendapatkan bantuan dari orang-orang disekitarnya.

Informasi ini harus menjadi cambuk bagi keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan (konselor) untuk memperbaiki pola komunikasi dengan remaja. Membuat remaja nyaman dengan memahami sudut pandang mereka menjadi kunci utama dalam keberhasilan proses konseling rokok. Keluarga dan sekolah harus mampu menjadi panutan.

Pemerintah pusat dan daerah harus menyediakan peraturan legal yang mendukung pembatasan penjualan rokok eceran. Tenaga kesehatan (konselor) termasuk guru BK harus mampu membangun komunikasi efektif dengan remaja. Harapannya, perokok remaja dapat ditekan seminimal mungkin dan dicegah sedini mungkin.

 

 

Umi Lutfiah, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute, umi@theindonesianinstitute.com

Komentar