Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Pemenuhan Inklusi Sosial Harus Diprioritaskan – Berdayakan Penyandang Disabilitas

Memenuhi hak yang sama bagi para penyandang disabilitas dengan masyarakat pada umumnya masih menjadi pekerjaan rumah.

Pasalnya, sebagian masyarakat masih menganggap mereka penyandang disabilitas adalah sebagai beban sehingga perlakukan diskriminasi masih ditemukan.

Maka guna meningkatkan kemandirian, FWD Group (FWD) berkomitmen untuk mendorong penyandang disabilitas dalam menciptakan rasa aman dan kemandirian.

Kepedulian perusahaan asuransi jiwa ini pada pemberdayaan penyandang disabilitas diwujudkan dengan menciptakan perubahan positif dan mengadvokasi peluang yang sama untuk masyarakat kurang beruntung dengan menyediakan kesempatan mendapatkan edukasi, lapangan pekerjaan, dan literasi keuangan.

Saat ini terdapat 370 juta penyandang disabilitas di Asia saja, dan diestimasi 80% di antaranya memiliki peluang lebih kecil mendapatkan pekerjaan dibandingkan orang lain.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, FWD Life berusaha membantu para penyandang disabilitas untuk mendapatkan peluang yang sama dan dapat hidup mandiri.

Direktur Utama FWD Life, Anantharaman Sridharan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, di FWD Life percaya pentingnya berkontribusi kepada masyarakat dan membantu membuat perubahan bagi komunitas melalui kerja sama yang dapat memberdayakan para penyandang disabilitas di Indonesia.

“Kami fokus pada komunitas ini karena melihat banyaknya talenta berkualitas yang kurang memiliki peluang, padahal, mereka memiliki kemampuan, cara pandang, dan keahlian yang baik. Kami ingin mereka menjalani hidup dengan baik, oleh karena itu kami juga memberikan pembelajaran literasi keuangan,”jelasnya.

PT FWD Life Indonesia (“FWD Life”) menjalankan komitmen ini melalui kerja sama dengan organisasi seperti Special Olympics Indonesia (SOIna), sebuah gerakan inklusi global melalui program olahraga, kesehatan, edukasi, dan kepemimpinan untuk memberdayakan dan mengakhiri diskriminasi atas para penyandang disabilitas; dan Humanity & Inclusion (H&I), berfokus pada masyarakat dengan kemiskinan dan eksklusi, konflik dan bencana; untuk menciptakan masyarakat inklusif dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi setiap orang.

Menurut Anantharaman Sridharan, kerja sama dengan SOIna dan H&I hanyalah sebuah awal dan diharapkan dapat melihat mereka berkembang, seperti halnya FWD Life sebagai perusahaan.

Dirinya juga menambahkan, kepedulian FWD Life dalam pemberdayaan masyarakat disabilitas juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals – SDG) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Apalagi, FWD Life ingin berperan aktif dalam membantu mencapai SDG terutama Tujuan 8 dengan “Pekerjaan Layak Dan Pertumbuhan Ekonomi” dan Tujuan 10 dengan “Berkurangnya Kesenjangan”.

Pada 2018, FWD Life secara resmi bekerja sama dengan SOIna selama tiga tahun dengan mensponsori dua program utama SOIna: Unified Schools dan Athlete Leadership.

Hingga saat ini, kerja sama ini telah menjangkau 200 atlet SOIna melalui rangkaian roadshow di berbagai kota di Indonesia.

Dalam roadshow ini, FWD Life memberikan literasi keuangan kepada para atlet dan mendorong mereka agar lebih percaya diri, mandiri, dan aktif secara profesional.

Pada 2019 FWD Life dengan bangga menyambut tiga tunarungu sebagai karyawan FWD Life hasil kerja sama dengan H&I yang bertujuan untuk memberdayakan berbagai tipe dan lebih banyak penyandang disabilitas, baik disabilitas fisik maupun intelektual.

Gerakan inklusif ini menunjukkan fokus FWD Life untuk menjadi perusahaan “inclusive-ready”, termasuk mengedukasi para karyawan tentang peran mereka dalam menyambut dan membuat lingkungan kondusif dan inklusif bagi para penyandang disabilitas.

Membuka Akses Disabilitas

Menurut pengamat ekonomi The Indonesian Institute, Muhamad Rifki Fadilah, membuka akses liternasi keuangan bagi disabilitas juga penting untuk meningkatkan kemandirian secara ekonomi dan begitu juga halnya keberadaan fintech juga harus ramah terhada disabilitas dalam mengakses berbagai transaksi keuangan.

Oleh sebab itu, Rifki berharap kemunculan fintech diharapkan meningkatkan akses ke sektor keuangan guna membuat bisnis lebih maju, terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lebih mudah dan juga fintech harus menyentuh pelaku UMKM yang menyandang disabilitas.

Rifki mengatakan bahwa menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2016, sebagian besar penyandang disabilitas bekerja sebagai pengusaha. Persentase penyandang disabilitas yang bekerja sebagai pengusaha mencapai 70% dari total populasi.

Kemudian, studi dari International Labour Organization (ILO) berpendapat jika penyandang disabilitas terlibat dalam proses pembangunan, mereka memiliki potensi untuk berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) antara 3% hingga 7%.

”Dengan demikian, kemudahan akses ke layanan keuangan sangat dibutuhkan oleh para penyandang disabilitas dalam meningkatkan akses ke modal untuk meningkatkan bisnis mereka dan mendorong nilai tambah produk mereka dan daya saing,” ujar Rifki.

Selama ini penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai kendala saat menggunakan layanan perbankan.

Seperti infrastruktur yang tidak dapat diakses hingga masih ada stigma negatif yang masih ada di dalamnya, meskipun hak untuk mendapatkan akses ke layanan keuangan yang adil telah diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.

Hasil survei oleh Disability Services Study Center 2016 menemukan bahwa sebanyak 65% penyandang disabilitas masih mengalami kesulitan mengakses layanan perbankan.

Faktor utama adalah karena stigma bahwa penyandang cacat tidak mampu secara finansial sehingga mereka dianggap tidak memiliki kekuatan.

Selain itu, infrastruktur perbankan yang belum dapat diakses menjadi faktor para difabel enggan melakukan transaksi di bank.

“Dengan adanya fintech, saya pribadi melihat ini bisa menjadi celah yang dapat dimanfaatkan penyandang disabilitas untuk memperoleh akses keuangan khususnya permodalan sehingga mereka bisa meningkatkan lagi produksinya, dan juga tingkat inklusi keuangan kita semakin dalam dengan menyentuh dan mengangkat kedudukan teman-teman kita, penyandang disabilitas untuk menikmati fasilitas ini bersama,” kata Rifki.

Komentar