Paste your Google Webmaster Tools verification code here
Foto Bloktimur.wordpress

Menakar Poros Jakarta-Beijing

Selama satu tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Indonesia dan China semakin mesra menjalin beragam kerja sama di berbagai bidang. Perkembangan ini pun membuat beberapa pihak menilai Jokowi tengah memperkuat poros Jakarta-Beijing di tengah perubahan geopolitik regional dan global.

Ada pihak yang menyatakan, perkembangan ini hanya sesuatu yang biasa saja dalam kerja sama bilateral. Meski demikian, ada juga kekhawatiran jika kedekatan Indonesia pada China akan berdampak ke berbagai bidang lainnya.

Kekhawatiran semacam ini ditepis oleh Kementerian Luar Negeri (kemenlu) Indonesia yang menganggap kerja sama Indonesia dan China merupakan hal yang biasa. Menurut Kemenlu, konsep hubungan China dan Indonesia sama, tidak ada yang lebih menonjol dari negara lain.

”Hanya persepsi saja bila ada yang menyebut kini Indonesia lebih memilih China untuk bekerja sama. Sesuai prinsip Indonesia yang bebas aktif, Indonesia berhak melakukan kerja sama dengan negara mana pun,” ujar juru bicara Kementer ian Luar Negeri (kemenlu) Arrmanatha Nasir kepada KORAN SINDO.

Dia mengatakan, tidak ada keeksklusifan yang terjadi antara Indonesia dan China. Bila akhir-akhir ini Indonesia terlihat banyak melakukan kerja sama dengan China, sebetulnya sama saja dengan negara lain. Armanatha mengatakan, akhir bulan ini Indonesia akan melakukan kesepakatan dengan Jepang dan bulan depan Presiden Jokowi dijadwalkan berkunjung ke Amerika Serikat (AS).

Dalam setiap kerja sama dipastikan saling menguntungkan kedua belah pihak. Begitu pun dengan kerja sama antara Indonesia dan China. Bagi Negeri Panda, Indonesia merupakan pasar baru karena tentunya China terus mencari peluang baru di luar negaranya.

Di sisi lain, Indonesia mendapat pemasukan dari setiap barang yang masuk dari China serta keuntungan lain di berbagai sektor. Armanatha menambahkan, prospek kerja sama Indonesia dan China cukup menjanjikan meski tidak sebesar negara lain. ”Bisa dilihat lagi data-datanya, China tidak masuk top investasi di Indonesia,” imbuhnya.

Meski begitu, tidak menutup kemungkinan suatu saat Indonesia akan membentuk poros Beijing-Jakarta untuk lebih memudahkan kerja sama yang dibangun. Beberapa pihak memperingatkan agar pemerintahan Jokowi tidak meninggalkan prinsip kebijakan luar negeri yang bebas-aktif.

Direktur Eksekutif Inagoinvest Guspiabri Sumowigono mengatakan kebijakan luar negeri perlu digunakan untuk memenuhi kepentingan nasional. Pasalnya, sejak 10 tahun terakhir, dunia mengalami perubahan geopolitik yang sangat cepat. ”Sampai sekarang AS dan Eropa belum pulih dari krisis.

Menurunnya pengaruh AS dan sekutu Barat ditandai dengan pengakuan bahwa forum G-7 tidak lagi memadai untuk mengatur dinamika ekonomi dunia dan kemudian dibentuklah G-20,” ujar Guspiabri pada KORAN SINDO . Adapun, peneliti senior The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research, Adinda Tenriangke Muchtar berpendapat, meski hubungan diplomatik antara RI dan China semakin intensif, tidak berarti Indonesia akan meninggalkan Jepang dan AS.

”Harus dicatat bahwa Indonesia juga berkomitmen dengan AS lewat comprehensive partnership dan economic partnership agreement dengan Jepang, serta Indonesia juga sudah memiliki sejarah hubungan diplomatik dengan Jepang dan AS,” ungkapnya. Adinda menuturkan, istilah ”poros” mengingatkan pada konteks Perang Dingin.

Di satu sisi, hal ini mencerminkan kedekatan hubungan yang eksklusif antara China dan Indonesia. Di sisi lain, masing-masing negara juga memiliki hubungan diplomatik yang khusus dengan negara-negara lain tergantung kepentingannya. ”Poros Maritim yang ada adalah satu hal, semacam tagline dalam hubungan Indonesia dan China, namun bukan berarti Indonesia menutup kerja sama dengan negara-negara lain,” pungkas Adinda.

Sumber: Koransindo.

Komentar