Paste your Google Webmaster Tools verification code here

Menanti Poros Koalisi Terakhir

arfiantoJelang pendaftaran pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres), komunikasi politik di antara partai politik semakin intensif. Kini, baru dua koalisi parpol yang terbentuk yaitu pertama, koalisi yang mengusung Capres Joko Widodo (Jokowi). Koalisi ini merupakan gabungan antara partai PDI Perjuangan, Partai Nasdem, dan PKB.  Kedua, koalisi yang mengusung Prabowo Subianto. Koalisi ini di dukung oleh Partai Gerindra, PPP, PKS, dan PAN.

Kemudian yang menarik menjadi pertanyaan adalah, bagaimana langkah Partai Golkar, sang runner up Pemilu 2014 dan Partai Demokrat sebagai pemenang pemilu 2009. Hingga kini Partai Golkar dan Partai Demokrat belum secara resmi mengumumkan sikapnya menjelang Pilpres 2014.

Partai Golkar sendiri, sebagai pemenang kedua Pemilu 2014 dengan perolehan suara 14,75% merupakan kekuatan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Manuver “genit” yang dilakukan Abu Rizal Bakrie (ARB) ke koalisi Prabowo dan Jokowi, membuktikkan bahwa Partai Golkar masih sangat memikat.

Komunikasi politik antara ARB dan Prabowo untuk menjajaki koalisi, bahkan telah dilakukan beberapa kali. Pertama, ketika Prabowo mengunjungi rumah ARB di pada 29 April 2014. Kemudian dibalas dengan kunjungan ARB ke rumah Prabowo pada tanggal 5 Mei 2014. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2014, Prabowo menemui ARB di Bakrie Tower. Intensnya pertemuan diantara kedua tokoh tersebut hingga kini belum diikuti dengan keputusan untuk mendukung Prabowo.

Selain dengan Prabowo, ARB juga telah melakukan komunikasi politik dengan kubu Jokowi. Pertemuan ARB dengan kubu Jokowi dilakukan di Pasar Gembrong Jakarta Pusat pada 14 Mei 2014, kemudian diikuti dengan pertemuan antara ARB dengan Megawati Soekarno Putri selaku Ketua Umum PDIP pada tanggal 15 Mei 2014.

Komunikasi politik yang dilakukan ARB membuktikan bahwa sikap Partai Golkar ditunggu oleh kedua poros koalisi. Seandainya Partai Golkar masuk ke poros Prabowo bersama Partai Gerindra, PKS, PPP, dan PAN, maka koalisi akan didukung oleh 47,47% suara parpol. Sedangkan jika Partai Golkar masuk ke poros Jokowi bersama PDIP, Partai Nasdem, dan PKB, maka koalisi ini akan di dukung oleh 49,46% suara parpol.

Lain halnya dengan Partai Demokrat. Partai Demokrat yang sedari awal menentukan capres-nya dengan menggunakan konvensi, harus menunggu hasil akhir dari konvensi. Akan tetapi patut diingat, kini Partai Demokrat tidak dapat mendorong capresnya sendiri, karena perolehan suara Partai Demokrat yang hanya 10,19%. Partai Demokrat mau tidak mau, harus membentuk koalisi ataupun ikut dalam poros koalisi yang sudah ada.

Melihat peta koalisi saat ini pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia, Hamdi Muluk, mengatakan, Partai Golkar dan Partai Demokrat sebaiknya membentuk poros baru. Menurut Hamdi Muluk, langkah ini dinilai lebih terhormat dibandingkan jika Golkar dan Demokrat ikut bergabung ke poros Jokowi atau Prabowo. Hamdi menyampaikan, walaupun kalah tapi terhormat. Justru itu bisa jadi kredit politik bagi Demokrat dan Golkar untuk modal mereka di Pemilu 2019 nanti (kompas.com, 15/5).

Melihat perolehan suara 14,75% dan 10,19% pembentukan koalisi baru diantara Partai Golkar dan Demokrat diharapkan dapat membangun kekuatan penyeimbang diantara kekuatan politik yang ada. Jika saat ini hanya diisi oleh persaingan poros Jokowi dan Prabowo.  Maka dengan koalisi baru ini diharapkan, pertama, memunculkan figur alternatif. Kedua, memperkaya tawaran gagasan untuk Indonesia lima tahun ke depan.

Maka patut ditunggu poros koalisi baru menjelang pendaftaran Capres dan Cawapres yang akan berlangsung 18 – 20 Mei 2014. Akankah Partai Golkar akan berkoalisi dengan Partai Demokrat ataukah kedua parpol tersebut akan masuk ke poros koalisi yang sudah terbentuk.

Arfianto Purbolaksono – Peneliti Yunior Bidang Politik The Indonesian Institute arfianto@theindonesianinstitute.com

Komentar