www.theindonesianinstitute.com

Tantangan Anas Urbaningrum

E-mail Cetak PDF
Penilaian Pengunjung: / 0
KurangTerbaik 

Kongres II Partai Demokrat telah resmi menetapkan Anas Urbaningrum  (41) sebagai ketua umum terpilih 2010-2015. Hasil kongres ini memiliki arti penting bagi masa depan kepartaian di Indonesia. Pasalnya, suksesi ini berhasil mengantarkan generasi muda menjadi nahkoda partai terbesar dan pemenang pemilu yang mengusai lebih dari seperempat kekuatan di parlemen. Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi masa depan regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan nasional.

Padahal defisit kepemimpinan muda, selama ini menjadi problem utama partai-partai dewasa ini. Pada titik inilah, terpilihnya Anas sebagai Ketua Umum Partai Demokrat menjadi angin segar bagi proses transformasi Partai Demokrat menjadi partai modern dan demokratis, sekaligus menjadi kabar baik bagi regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan nasional ke depan. Karena itu, terpilihnya Anas perlu dan pantas diapresiasi. Lalu, pertanyaannya, apa yang menjadi tantangan Anas Urbaningrum dalam menahkodai “kapal besar” Demokrat lima tahun ke depan?

Modernisasi organisasi

Paling tidak ada lima tantangan sekaligus agenda konsolidasi politik yang menjadi beban politik Anas dalam memimpin Partai Demokrat lima tahun mendatang secara bervariasi: konsolidasi “faksi” pasca-kongres untuk menantisipasi potensi konflik dan perpecahan internal; konsolidasi institusi (organisasi) dalam rangka mentransformasikan Demokrat menjadi partai modern dan demokratis; konsolidasi ideologi dalam rangka mentransformasikan gagasan dan pemikiran SBY menjadi gagasan besar partai; konsolidasi koalisi dalam rangka mengamankan Pemerintahan SBY-Boediono hingga 2014, serta konsolidasi eleksi (pemilu) untuk mempertahankan kemenangan di pemilu legislatif maupun pemilu presiden. 

Tantangan Anas terdekat adalah mengonsolidasikan tiga “faksi politik” yang bertarung di kongres. Kekecewaan atau kekalahan “faksi politik” dalam suksesi partai biasanya diekspresikan dalam bentuk migrasinya kader ke partai lain atau mendirikan partai baru. Fenomena seperti ini juga terjadi di Partai Demokrat lima tahun silam, pada pasca-kongres I. Karena itu, kemampuan dan kepiawaian Anas dalam menyatukan kelompok dan kepentingan di internal partai akan menjadi ujian bagi kualitas kepemimpinan Anas.

Konsolidasi institusi (organisasi) melalui modernisasi dan demokratisasi internal juga menjadi tantangan bagi kepemimpinan Anas. Modernisasi dan demokratisasi internal ini berkaitan dengan sejauhmana pelembagaan sistem kepemimpinan kolektif-kolegial dan prinsip meritokrasi dalam sistem kaderisasi dan rekrutmen diterapkan di internal partai. Demokratisasi dan modernisasi organisasi juga ditempuh dengan melakukan “konsolidasi ideologi” berupa pengakaran partai (party rooting) -- mengintensifkan hubungan antara partai dan konstituen – agar ideologi, platform dan program partai benar-benar mengakar di masyarakat.  Karena itu, strategi “menjual” popularitas dan karisma SBY perlu segera  ditransformasikan dengan strategi menawarkan platform dan program yang menarik dan inovatif.

Di satu sisi, Partai Demokrat memang perlu segara bertransformasi menjadi partai modern dan demokratis, tetapi di sisi lain Anas sebagai ketua umum tetap perlu menjaga dan menjalin hubungan komunikasi dan koordinasi dengan SBY sebagai figure sentral saat ini. Setidaknya agar proses modernisasi internal itu mendapatkan dukungan sekaligus tidak menimbulkan “ketersinggungan” SBY—terutama dalam konteks untuk memulai melepaskan ketergantungan partai terhadap figur SBY. Di titik inilah di satu sisi diperlukannya “keberanian” Anas dalam melakukan transformasi partai secara santun, elegan, dan sistematis.  Di sisi lain, diperlukan kerelaan dan ketulusan SBY untuk melepaskan ketergantungan Demokrat terhadap dirinya secara perlahan.

 

Mengelola koalisi

Selain tantangan internal – konsolidasi faksi, konsolidasi organisasi, dan konsolidasi ideologi – Anas juga memiliki tantangan eksternal, yaitu mengelola dan mengkoordinasikan koalisi (konsolidasi koalisi), sekaligus mempertahankan kemenangan elektoral Partai Demokrat di 2014 (konsolidasi eleksi). Mengonsolidasikan barisan koalisi mutlak menjadi salah satu beban dan fungsi Ketua Umum Partai Demokrat sebagai the rulling party.

Apalagi, problem lemahnya komunikasi politik menjadi salah satu faktor rapuhnya koalisi belakangan ini. Fungsi komunikasi elite yang sebelumnya sering diperankan Jusuf Kalla, kini menjadi celah kelemahan komunikasi SBY. Celah inilah yang perlu diperankan Anas dalam rangka mengokohkan barisan koalisi. Karena itu, posisi ketua harian sekretariat gabungan (setgab) koalisi perlu dipertimbangkan agar diserahkan pada Anas. Hal ini dapat menjadi “pembelajaran politik” bagi Anas sekaligus menghindari “ketersinggungan” partai-partai lain jika ketua harian setgab tetap diserahkan kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie secara permanen.

Memenangkan kembali Partai Demokrat di pemilu legislatif dan pemilu presiden pada 2014 juga akan menjadi tantangan berat bagi Anas. Apalagi sulit untuk dipungkiri  faktor utama kemenangan Partai Demokrat di Pemilu 2009, lebih disebabkan kuatnya karisma personalitas SBY, ketimbang faktor kinerja pengorganisasian mesin partai. Sementara konstitusi tidak memperbolehkan lagi SBY mengikuti Pemilu Presiden 2014 – saat ini merupakan periode terakhir kepresidenan SBY. Kondisi ini tentu akan menjadi tantangan berat bagi Anas dan Partai Demokrat.

Tantangan-tantangan inilah yang akan menjadi ujian bagi kualitas kepemimpinan Anas Urbaningrum selama lima tahun mendatang. Dengan segala keunggulan dan potensi yang dimiliki Anas urbaningrum, keluarga besar Partai Demokrat pantas dan layak optimis menatap masa depannya. Akhirnya, selamat atas terpilihnya Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat 2010-2015!

 

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Home Publikasi Artikel Opini Hanta Yuda AR Tantangan Anas Urbaningrum