www.theindonesianinstitute.com

Antonius Wiwan Koban

Intoleransi dan Cuci Tangan Pemerintah

E-mail Cetak PDF

Konflik horizontal terkait intoleransi antarumat beragama di Indonesia ibarat letupan dalam bongĀ­kahan bara api. Setidaknya, ada tiga hal yang memanas dalam konteks eskalasi kasus-kasus konflik antarumat beragama dalam menjalankan ibadah, terkait pihak agresor, defender, dan mediator.

 

Mengurangi Pengangguran Terdidik

E-mail Cetak PDF

Masalah ketenagakerjaan di Indonesia kembali memunculkan satu problem yang signifikan, yaitu besarnya angka pengangguran terdidik. Yang dimaksud dengan pengangguran terdidik adalah mereka yang mempunyai kualifikasi lulusan pendidikan yang cukup namun masih belum memiliki pekerjaan. Pada tahun 2008 ini, sebanyak 4,5 juta dari 9,4 juta orang pengangguran berasal dari lulusan SMA, SMK, program Diploma, dan Universitas. Artinya, separuh dari total angka pengangguran adalah pengangguran terdidik. Mereka ini sebetulnya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, namun tidak terserap oleh pasar kerja.

 

Gizi Buruk: Statistik atau Empirik?

E-mail Cetak PDF
Masalah gizi buruk masih dialami oleh anak-anak di berbagai tempat di Indonesia dari tahun ke tahun. Ini menjadi potret buruk pemenuhan kebutuhan mendasar bagi masyarakat Indonesia. Gizi buruk menjadi perhatian masyarakat ketika media mengangkat kasus-kasus meninggalnya anak-anak di banyak daerah karena malnutrisi. Bagaimana pendekatan penanganannya oleh Pemerintah dan masyarakat?
 

The Risk Perception of Bom Attacks

E-mail Cetak PDF

"Serious security threats from terrorists to all Americans & Westerners in Indonesia. Avoid visiting western country embassies, western pedestrians...." Foreign residents and tourists in Indonesia, especially in Jakarta, are very familiar with that kind of warning message which is circulated officially by the embassies or unofficially from person to person via short message services (SMSs) or e-mails and mailing lists.

That sentence is a kind of current warning message targeted to foreigners living in Indonesia. But how about the Indonesian people themselves? Are they also aware about the same threats in the same areas? What is their perception about security threats in Indonesia? How do Indonesians perceive the probability of becoming the victims of terrorist attacks?

 

Membaca KLB Flu Burung

E-mail Cetak PDF

''JIKA esok terjadi pandemik flu burung, kita tidak akan siap. Waktu terus berputar dan ketika pandemik menyerang, semuanya sudah terlambat,'' kata juru bicara WHO Christine McNab, seperti dikutip kantor berita AFP (19/9).

Sementara itu, pakar virus flu burung WHO Margaret Chan mengingatkan bahwa penularan dari manusia ke manusia diprediksi tinggal menunggu waktu. ''Pertanyaannya adalah kapan, dan bukan lagi apakah virus flu burung bisa menular antarmanusia. Kita harus berjaga-jaga setiap waktu, setiap hari.''

Pernyataan di atas menunjukkan kekhawatiran WHO bahwa kebanyakan negara tidak siap jika terjadi pandemik flu burung. Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita telah menyikapi serta menindaklanjuti kekhawatiran wabah flu burung secara tepat? Apakah para pejabat publik kita telah menjalankan fungsi persepsi dan komunikasi risiko secara layak dan efektif?

 
Halaman 1 dari 2
You are here: Home Publikasi Artikel Opini Antonius Wiwan Koban