www.theindonesianinstitute.com

Wacana

Tragedi Sukhoi dan Buruknya Manajemen Penerbangan di Indonesia Rabu, 16 Mei 2012
Politik Anggaran untuk Kawasan Perbatasan Jumat, 11 Mei 2012
Polemik Pembatasan Penggunaan BBM Bersubsidi Jumat, 04 Mei 2012
Polemik Pembatasan Penggunaan BBM Bersubsidi Jumat, 04 Mei 2012
Ratifikasi Konvensi Migran 1990 Kamis, 19 April 2012
Menghalau Galau Ujian Nasional Jumat, 13 April 2012
Wilayah Perbatasan: Halaman Depan Indonesia yang Terlupakan Senin, 09 April 2012
Menyambut Pilkada Jakarta Jumat, 30 Maret 2012
Kewenangan Semu Desa Kamis, 15 Maret 2012
Musrenbang dan R-APBN untuk Kawasan Perbatasan Jumat, 09 Maret 2012
Perilaku Kekerasan Anak Sekolah Dasar Senin, 05 Maret 2012
Masih Bisakah Cinta Tanah Air? Kamis, 16 Februari 2012
Kita dan Persepsi Korupsi Jumat, 10 Februari 2012
Melindungi Hak Pejalan Kaki Selasa, 07 Februari 2012
Beberapa Catatan untuk Satgas TKI Jumat, 20 Januari 2012
Melindungi Anak Berhadapan dengan Hukum Jumat, 13 Januari 2012
Darurat Penyelesaian Konflik Agraria Senin, 09 Januari 2012
Jalan Panjang Perlindungan PRT Jumat, 16 Desember 2011
Jalan Panjang Perlindungan PRT Jumat, 16 Desember 2011
Apa Kabar Komisi Informasi Propinsi Jumat, 09 Desember 2011

Perombakan Kabinet

E-mail Cetak PDF

Perombakan Kabinet Indonesia Bersatu II merupakan bagian upaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengokohkan legitimasi kekuasaannya. Tidak ada perubahan pola perombakan kabinet yang dilakukan oleh Presiden, bahkan sejak penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu I lalu. Presiden semestinya mengokohkan kekuasaan dengan dukungan rakyat berbasis kerja keras atau kinerja pemerintahan. Jika hal itu dilakukan, citra Presiden otomatis bakal naik.

Namun, yang dilakukan Presiden saat ini masih sama, yakni meraih dukungan vertikal dari rakyat masih berbasis politik pencitraan sebagaimana terlihat dari dramatisasi audisi calon menteri dan wakil menteri. Sementara dukungan horizontal dari parlemen dan partai politik masih berbasis kompromi atau negosiasi yang cenderung transaksional. Padahal dukungan dari parlemen mestinya berbasis konstitusi, karena posisi politik Presiden sejatinya kuat dalam konstruksi sistem presidensial.

Pola dan parameter dalam perombakan kabinet sekarang ini lebih pada kalkulasi kekuatan partai di parlemen dan perimbangan politik berupa representasi partai atau daerah. Selain itu, juga lebih pada evaluasi kedisiplinan (manuver) partai di koalisi dan dinamika internal (faksionalisasi) di partai koalisi.

Sementara evaluasi kinerja berdasarkan penilaian Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) serta evaluasi Pakta Integritas proporsinya sangat kecil, bahkan hampir tak terlihat. Nuansa politis berupa kompromi dan negosiasi politik terlihat lebih kentara.

Presiden selalu ragu dan sulit mengganti menteri dari parpol. Presiden juga hanya berani mengganti menteri dari parpol yang posisinya tak kuat lagi atau tak didukung lagi partainya. Presiden terlihat ingin memenuhi keinginan publik tapi tidak berani melawan kungkungan parpol dalam koalisi. Karena itu, strateginya diangkatlah sejumlah wakil menteri agar Presiden tetap bisa mengendalikan kabinet.

Selain untuk memperkuat kontrol Presiden terhadap kementerian, ditunjuknya beberapa wakil menteri juga merupakan ikhtiar Presiden untuk mengantisipasi potensi terjadinya dualisme loyalitas menteri mendekati tahun politik 2014 mendatang. Karena menteri yang berasal dari partai berpotensi besar fokusnya akan terpecah dengan kepentingan memenangkan partai jelang Pemilu 2014. Penunjukan wakil menteri juga merupakan upaya Presiden untuk meningkatkan kinerja kabinet sekaligus pencitraan di publik.

Namun, kebijakan ini juga memilki risiko terjadinya disharmoni antara menteri dan wakil menteri jika kewenangan keduanya tidak diperjelas. Selain itu, posisi wakil menteri juga berpotensi mempergemuk birokrasi sehingga koordinasi semakin panjang. Hal ini tentu bertolak belakang dengan semangat efisiensi dan reformasi birokrasi.

Ramuan politik kompromi (negosiasi) dan politik pencitraan dalam rangka memelihara legitimasi kekuasaan ternyata lebih kental ketimbang semangat memperbaki kinerja pemerintahan. Karena itu, agak sulit menggantungkan harapan terlalu tinggi akan adanya perubahan signifikan. Seandainya semangat utama perombakan kabinet adalah kinerja dan memenuhi harapan publik, pada reshuffle kali ini, instrumen utama mestinya evaluasi UKP4 dan Pakta Integritas.


Hanta Yuda AR, Peneliti Bidang Politik The Indonesian Institute

Terakhir Diupdate ( Senin, 24 Oktober 2011 02:54 )  

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Home Pendidikan publik Wacana Perombakan Kabinet