Jakarta kini menuju titik batas daya dukungnya dalam menghadapi kemacetan. Ada sejumlah analisis penyebab kemacetan Jakarta. Pertama, pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak seimbang dengan pertumbuhan jalan. Akibatnya, tapak jalan penuh, dan pada suatu titik akan macet total.
Jumlah kendaraan roda dua dan empat di Jakarta sebanyak 6,7 juta unit, dengan pertumbuhan 1.172 unit perhari. Total pertumbuhan mobil sebesar 10 persen pertahun dan motor 15 persen pertahun. Bandingkan dengan panjang jalan yang 7.650 kilometer, atau 0,26 persen dari wilayah Jakarta yang seluas 662 kilometer persegi dan dengan pertumbuhan panjang jalan yang hanya 0,01 persen pertahun. Kondisi ini jelas tidak sebanding dengan tingginya angka perjalanan.
Bahkan sebuah hitung-hitungan matematis menunjukkan, jika kondisi ini terus berlanjut, Jakarta akan macet total pada 2015 mendatang. Kajian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengungkapkan, saat ini kecepatan laju kendaraan di Ibukota hanya 10-15 km/jam. Dengan penurunan kecepatan 1 km/jam/tahun, maka pada 2015 akan menjadi 5-10 km/jam. Ditambah rambu-rambu yang ada, maka Jakarta akan macet total.
Kedua, angkutan massal tidak berkembang. Selain tidak aman dan tidak nyaman, angkutan massal belum mampu menjawab kebutuhan transportasi warga. Jumlah kendaraan pribadi yang lebih banyak dibanding kendaraan umum memperparah keruwetan transportasi di Jakarta. Dari jumlah kendaraan roda dua dan empat di Jakarta yang sebanyak 6,7 juta unit, 98 persen diantaranya adalah kendaraan pribadi, sedangkan sisanya angkutan umum. Padahal jumlah orang yang diangkut kendaraan pribadi jauh lebih sedikit ketimbang penumpang yang dibawa angkutan umum.
Kendaraan pribadi hanya mengangkut sekitar 44 persen orang yang beraktivitas. Adapun kendaraan umum mengangkut sekitar 56 persen penumpang. Situasi ini mesti dibalik. Pemilik kendaraan pribadi harus dibuat bersedia berpindah ke angkutan umum. Syaratnya, pemerintah menyediakan transportasi massal yang bersih, manusiawi, dan jumlahnya mencukupi.
Ironisnya, kemacetan yang ditunjang dengan lemahnya penegakan hukum bagi para pelanggar lalu lintas dan pengguna lahan-lahan yang seharusnya digunakan sebagai kawasan pedestrian, hanya memunculkan alasan bahwa dibutuhkan tambahan luas dan panjang jalan. Tidak nampak strategi transportasi yang terarah dan menyeluruh serta konsisten dalam implementasinya di satu sisi dan lebih menonjolkan retorika dan slogan-slogan semata di sisi lainnya.
Potret perencanaan dan pelaksanaan program sepatutnya menggambarkan seluruh elemen yang berpengaruh terhadap sistem transportasi yang diinginkan. Sebut saja persoalan khusus mengenai program busway, setelah enam tahun sejak program ini digulirkan dan telah mengoperasikan sepuluh koridor dan melibatkan empat konsorsium perusahaan, masih dihadapkan dengan persoalan standar pelayanan pengguna mulai dari waktu kedatangan dan berangkat yang belum dapat diperkirakan, kenyamanan dan keamanan sampai kepada persoalan tiketing. Padahal masih terdapat beberapa koridor lainnya yang telah disiapkan infrastrukturnya namun tak kunjung dioperasionalisasikan.
Sebagai sebuah sistem, kehadiran dan operasionalisasi busway ini harus didorong dan didukung oleh infrastuktur yang mengarah pada terwujudnya sistem transportasi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Pembenahan dimulai dari komitmen para pemangku kepentingan yang kemudian diturunkan menjadi kegiatan dan capaian yang terukur serta pengawasan yang disertai insentif dan disinsentif (reward and punishment).
Menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota wisata di Asia Tenggara patut mendapatkan dukungan dari sistem transportasinya. Baik atau buruknya sistem transportasi menjadi wajah tata kelola kita. Posisi program busway sangat dipertaruhkan. Jika saja perjalanan program busway ini tidak mengarah pada kondisi yang lebih baik, maka program-program lainnya dalam mendukung sistem transportasi massal akan mengalami kondisi yang sama jika tidak ingin menjadi wacana saja.
Endang Srihadi, Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute
Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


