www.theindonesianinstitute.com

Wacana

Beberapa Catatan untuk Satgas TKI Jumat, 20 Januari 2012
Melindungi Anak Berhadapan dengan Hukum Jumat, 13 Januari 2012
Darurat Penyelesaian Konflik Agraria Senin, 09 Januari 2012
Jalan Panjang Perlindungan PRT Jumat, 16 Desember 2011
Jalan Panjang Perlindungan PRT Jumat, 16 Desember 2011
Apa Kabar Komisi Informasi Propinsi Jumat, 09 Desember 2011
Mendorong Dialog Jakarta-Papua Kamis, 08 Desember 2011
Mencari Kualifikasi Ideal Calon Gubernur Jakarta Rabu, 07 Desember 2011
Pulihkan Harga Diri dan Martabat Orang Papua Selasa, 29 November 2011
Perang Image Gaya Hidup Anggota DPR Kamis, 24 November 2011
Memanusiakan Orang Utan Senin, 21 November 2011
Kembalinya Kebudayaan ke Kementerian Pendidikan Senin, 14 November 2011
Memahami Kejahatan di Jakarta Kamis, 10 November 2011
Persoalan Perbatasan: Camar Bulan dan Tanjung Datu Senin, 31 Oktober 2011
Sebelum Moratorium TKI ke Malaysia Usai Senin, 24 Oktober 2011
Perombakan Kabinet Sabtu, 22 Oktober 2011
Sengketa Rumah Ibadah : GKI Yasmin vs Walikota Bogor Rabu, 12 Oktober 2011
Kekerasan terhadap Perempuan di Angkutan Umum Jumat, 07 Oktober 2011
Kontroversi Hibah F-16 : Kuantitas atau Kualitas? Kamis, 29 September 2011
Dimensi Politik Reshuffle Rabu, 28 September 2011

Menimbang Sikap terhadap Israel dalam Insiden Mavi Marmara

E-mail Cetak PDF

Dunia dikejutkan oleh insiden serangan tentara Israel terhadap sipil relawan misi kemanusiaan Freedom Flotilla pada 31 Mei lalu. Setidaknya 16 relawan tewas dan lebih dari 30 orang terluka akibat serangan tentara Israel di atas kapal Mavi Marmara, satu dari konvoi kapal laut pengangkut bantuan kemanusiaan yang hendak menembus blokade Israel terhadap Gaza.

 

Jatuhnya belasan korban jiwa dan puluhan korban luka dari kalangan relawan sipil menimbulkan duka cita sangat mendalam, kemarahan, serta luka pada hati yang bersimpati terhadap korban akibat konflik Israel-Palestina. Dari berbagai penjuru dunia serentak merespon mengutuk aksi yang memperlihatkan kekejaman Israel ini.  Insiden ini semakin menambah “raport merah” bagi reputasi kekejaman bangsa Israel dalam konflik Jalur Gaza di mata dunia.

Di mata dunia, tewasnya warga sipil oleh aksi militer tidak dapat dibenarkan. Bentrokan berdarah antara militer dan sipil selalu menempatkan pihak militer di posisi terdakwa, terlepas dari entah pihak sipil atau pihak militer yang memulai lebih dulu aksi kekerasan. Posisi Israel semakin menjadi terdakwa kekejaman dan kejahatan apalagi bahwa aksi serangannya pada aktivis relawan sipil internasional yang mengangkut bantuan kemanusiaan bagi warga yang menderita akibat konflik perang di Jalur Gaza.

Di mata dan hati Indonesia, insiden ini tak pelak lagi menimbulkan gelombang reaksi keras, yang menambah akumulasi sikap anti Israel dan Zionisme. Apalagi dalam insiden ini, dari 369 aktivis relawan yang berada di kapal Mavi Marmara yang mayoritas berasal dari warga Turki, terdapat 12 orang Indonesia yang turut serta sebagai partisipan internasional dalam misi bantuan kemanusiaan Freedom Fortilla ini. Dua orang Indonesia di antaranya termasuk yang cedera.

Secara psikologis, sikap terhadap sesuatu tidak pernah bebas dari nilai subyektif dan pengkondisian berbagai faktor. Kita melihat bahwa reaksi spontan berbagai pihak terhadap insiden aksi Israel terhadap Freedom Fortilla jelas memperlihatkan di mana setiap pihak itu duduk di tempatnya. Misalnya kalangan yang pro rakyat Palestina korban konflik Jalur Gaza reaksinya langsung mengutuk aksi militer Israel dan meminta PBB memberikan sanksi keras atas kejahatan internasional yang dilakukan Israel.

Di pihak lain, kita melihat pihak-pihak yang punya sejarah kedekatan dan kepentingan dengan Israel, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang biasanya diam terhadap aksi-aksi Israel terhadap Palestina,  tetap di posisi “agak membela” Israel dengan “hanya” menyatakan bahwa insiden itu perlu diusut tuntas fakta-faktanya. Di mana hal ini dapat mendukung Israel yang membela diri bahwa insiden itu terjadi karena tentaranya membela diri dari serangan lebih dulu yang dilakukan oleh para aktivis relawan sipil.

Di tataran sosial di masyarakat Indonesia, di mana antipati terhadap Israel dan simpati terhadap nasib rakyat Palestina sudah menggelombang, tak terhindarkan lagi bahwa insiden ini menambah akumulasinya. Delegasi Indonesia di Badan PBB sudah melakukan langkah baik dengan mendukung resolusi PBB untuk membentuk misi pencari fakta independen, mengutuk keras tindakan ilegal Israel di perairan internasional, menyayangkan jatuhnya korban, meminta Israel mencabut blokade dan memberikan akses bagi bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza dan meminta Israel bertanggung jawab atas tindakannya. Indonesia termasuk dalam 32 negara yang mendukung resolusi itu, sementara sembilan negara abstain dan tiga negara menolak.

Yang menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia kemudian adalah menjaga supaya reaksi-reaksi di tataran sosial masyarakat di tanah air tetap arif, proporsional, dan bijak melihat duduk perkara secara berimbang, tidak bias. Seperti kita ketahui bersama dari pengalaman, massa akar rumput kita begitu mudahnya terbakar eskalasi gesekan sentimen-sentimen politik identitas. Tentunya kita tidak menginginkan ini berakumulasi pada tindakan anarkis yang tidak pada tempatnya.

Terakhir Diupdate ( Rabu, 09 Juni 2010 05:25 )  

Add comment


Security code
Refresh

You are here: Home Pendidikan publik Wacana Menimbang Sikap terhadap Israel dalam Insiden Mavi Marmara