Buku dan Kemajuan Indonesia

Menyambut Hari Kartini tahun ini, film Kartini yang diangkat dari sepenggal kisah hidup dan perjuangan Kartini diputar di bioskop. Dari sudut pandang feminis, banyak hal yang bisa dilihat. Poligami, posisi perempuan di dalam adat, perempuan dan agama terutama islam, pendidikan dan sebagainya. Namun yang ingin penulis elaborasi dalam tulisan ini khusus terkait aspek literasi Kartini. Hal ini juga didasari bahwa pada setiap tanggal 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Hari Buku Sedunia untuk pertama kalinya di peringati pada tanggal 23 April 1995. Hari Buku Sedunia ini diselenggarakan oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) atau disingkat UNESCO.

Maksud dari di selenggarakannya Hari Buku Sedunia adalah untuk mempromosikan membaca, penerbitan dan hak cipta.

Kembali ke Kartini, bahwa Kartini dan buku tidak bisa dipisahkan. Kartini mengamini ucapan kakak laki-lakinya bahwa, “raga boleh terkungkung, namun pikiran harus bebas melanglang buana kemana saja yang dikehendakinya”.

Hal yang bisa kita pelajari adalah apa yang bisa didapatkan ketika kita membaca buku? Kartini membaca semua buku. Buku-buku berbahasa Belanda dilahapnya dengan rakus. Hasil dari bacaan-bacaan tersebut kemudian menggelitik pikiran dan hatinya atas apa yang dialaminya sehari-hari. Dipingit, ketidaksetaraan dalam berbagai hal termasuk pendidikan dengan laki-laki, keharusan rela dipoligami dan sebagainya.

Pikiran dan hati yang tergelitik itu kemudian diutarakan dengan ‘berani’. Diutarakan dalam bentuk korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di negeri Belanda, diutarakan beserta alasan-alasan logis ke orang tua sehingga dalam beberapa kondisi bisa diterima, dan juga diutarakan dalam tindakan misalnya mencarikan pembeli hasil-hasil ukiran Jepara dan lain sebagainya.

Artinya adalah, membaca sebagai awal dari pembaharuan pemikiran seseorang. Awal dari tindakan-tindakan untuk aktualisasi diri sendiri pun lingkungan sekitar.

Bagaimana faktanya hari ini? Penelitian yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2012 menunjukkan, Indonesia menduduki peringkat 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Hasil ukur membaca ini mencakup memahami, menggunakan, dan merefleksikan dalam bentuk tulisan. Skor rata-rata internasional yang ditetapkan oleh PISA sendiri adalah sebesar 500.

Capaian itu tentu turun dibandingkan peringkat Indonesia pada 2009 di urutan 57 dengan skor 402 dari total 65 negara. Pada tahun tersebut, skornya memang naik tetapi peringkatnya turun. Sedangkan pada 2006, Indonesia menduduki peringkat membaca 48 dengan skor 393 dari 56 negara.

Di negara Asia Tenggara, kemampuan terbaik literasi membaca pada penelitian PISA tahun 2012 dipegang oleh Singapura yang menduduki peringkat ke 3 dengan perolehan skor 542. Adapun negara tetangga Malaysia ada di atas Indonesia dengan peringkat 59 dengan skor 398 (dikutip dari tirto.id/2017).

Rendahnya literasi membaca Indonesia itu bisa dikaitkan dengan angka buta huruf di Indonesia yang masih tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, angka buta huruf di Indonesia masih tinggi yang jumlahnya mencapai 5.984.075 orang. Papua menduduki angka tertinggi sebanyak 584.441 orang. Sedangkan persentase buta huruf terendah dipegang oleh DKI Jakarta.

Secara keseluruhan, Indonesia memiliki persentase buta huruf sebesar 4,78 persen untuk usia 15 tahun ke atas, 1,10 persen untuk usia 14-44 tahun dan 11,89 persen untuk usia 45 tahun ke atas.

Artinya dari angka-angka ini adalah pekerjaan rumah kita masih banyak. Kebijakan bidang pendidikan juga sudah seharusnya memikirkan bagaimana agar tingkat literasi ini meningkat. Program-progam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti membentuk Kampung-Kampung Literasi perlu diapresiasi dengan mendukungnya. Gerakan-gerakan kelompok masyarakat sipil seperti mendirikan taman bacaan, kampanye literasi di tempat-tempat umum seperti car free day, kereta, halte dan sebagainya juga perlu didorong.

Akhirnya, hanya dengan partisipasi dan kepedulian semua pihak, tingkat literasi penduduk Indonesia meningkat, dan pun membuat Indonesia lebih sejahtera, menjadi negara maju.
Penulis: Lola Amelia, [email protected]

Komentar